Jejak Inovasi
Capaian di Banjarsari membuka jalan bagi kolaborasi lebih luas. Kini, Satria dan tim USM dipercaya menyusun buku petunjuk teknis nasional untuk instalasi energi hybrid off-grid. Mulai tahun depan, konsep itu akan diterapkan di 14 kawasan transmigrasi dari Sabang hingga Merauke.
“Desa Banjarsari jadi model pertama. Tahun 2026 nanti, kami bantu replikasi di beberapa daerah seperti Banyuasin, Sumba Timur, Mesuji, hingga Merauke,” jelasnya.
Skema yang akan diadopsi tidak hanya menyediakan listrik, melainkan menggerakkan rumah produksi mandiri energi untuk komoditas unggulan lokal. Di Sumba Timur, misalnya, sistem hybrid digunakan untuk menjalankan mesin pengupas kemiri dan alat pres minyak.
Satria menegaskan bahwa banyak wilayah transmigrasi hanya menikmati jaringan PLN satu phase yang cukup untuk rumah ibadah atau penerangan dasar. Namun untuk aktivitas produksi, dibutuhkan listrik tiga phase. “Hybrid ini bisa jadi jawabannya,” terangnya.
Ia menyebut, potensi angin di Indonesia timur sebenarnya sangat besar. Kecepatan rata-rata 7 meter per detik telah melampaui standar minimal 6 meter per detik untuk turbin kecil. “Kalau di Jawa panasnya melimpah, di timur anginnya lebih stabil. Dua-duanya sumber energi bersih yang bisa kita padukan,” katanya.
Meski programnya berkembang nasional, Satria tetap merendah. Ia menilai keberhasilan model hybrid adalah buah kolaborasi lintas pihak: akademisi, perangkat desa, dan warga setempat.
“Kita hanya membantu membuka jalan. Yang menghidupkan energi itu sebenarnya masyarakatnya sendiri,” ujarnya tersenyum, merujuk pada beberapa anak muda lokal di Banjarsari yang kini dilatih dan dipekerjakan sebagai operator sistem EBT di desa.
Hingga Juli 2025, data Kementerian ESDM mencatat kapasitas PLTS atap terpasang di Indonesia telah mencapai 538 megawatt peak (MWp) dengan 10.882 pelanggan aktif memanfaatkan energi surya. Angka itu sesungguhnya belum sebanding dengan potensi energi terbarukan nasional yang mencapai lebih dari 3.700 gigawatt (GW). Pemanfaatannya, terutama pada PLTS dan PLTB, masih sangat rendah dibanding kapasitas teknis yang tersedia.
Pakar Ekonomi Universitas Diponegoro (Undip), Dr. Jaka Aminata, menilai inisiatif ini sebagai bukti bahwa transisi energi di Indonesia mulai bergerak dari pusat kebijakan ke tingkat komunitas.
“Selama ini, EBT sering dianggap urusan teknologi mahal dan kebijakan tingkat nasional. Namun proyek seperti PLTS membuktikan hal sebaliknya: transisi energi bisa dimulai dari masyarakat, dengan manfaat ekonomi nyata — terutama bagi pelaku usaha kecil dan komunitas daerah berkembang seperti Semarang,” ujarnya.
Menurut Jaka, gerakan transisi energi nasional sebenarnya berada pada momen krusial. Isu perubahan iklim global, kebutuhan menekan emisi karbon, dan tekanan ekonomi akibat fluktuasi harga minyak dunia membuat energi bersih menjadi kebutuhan mendesak, bukan sekadar komitmen moral.
Ia menambahkan, ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar fosil membuat ekonomi nasional rentan. “Dari sisi makroekonomi, transisi energi hijau adalah kebutuhan mendesak, bukan semata karena tekanan global, tetapi karena realitas ekonomi domestik.”
Dengan memanfaatkan energi matahari dan angin secara lebih masif, Indonesia berpeluang menghemat devisa, memperkuat ketahanan energi, dan mempercepat industrialisasi hijau yang menjadi fondasi ekonomi masa depan.
Namun Jaka menekankan bahwa kekuatan utama proyek energi hijau bukan pada teknologinya semata, melainkan pada model partisipatif yang melibatkan UMKM, teknisi lokal, universitas, dan koperasi. “Energi hijau tidak berhenti sebagai jargon, melainkan menjadi alat pemberdayaan ekonomi yang nyata,” tegasnya.
Di banyak sektor usaha kecil, terutama kuliner dan pengolahan hasil laut, biaya listrik bisa mencapai 30% dari total biaya produksi. Melalui pemanfaatan PLTS, UMKM mampu mengurangi pengeluaran energi hingga 40–60% tergantung skema kepemilikan.
“Dalam model Power Purchase Agreement (PPA), misalnya, pelaku usaha cukup membayar listrik sesuai pemakaian tanpa investasi awal besar. Efisiensi ini dapat dialihkan untuk inovasi produk, perluasan pasar, atau peningkatan kesejahteraan pekerja,” jelasnya.
Selain menurunkan biaya produksi, penggunaan energi hijau juga memperkuat citra usaha. Konsumen global semakin selektif terhadap keberlanjutan, sehingga produk berjejak karbon rendah memiliki nilai jual lebih tinggi. Karena itu, proyek PLTS Pujasera Energi tidak hanya menghadirkan listrik murah, tetapi juga membuka rantai nilai ekonomi baru.
Editor : Enih Nurhaeni
Artikel Terkait
