SEMARANG, iNewsJoglosemar.id – Siapa bilang panggung fashion hanya milik anak muda? Peringatan Hari Kartini yang digelar Gerakan Wanita Sejahtera (GWS) Kabupaten Semarang justru membuktikan sebaliknya, saat para perempuan usia matang tampil percaya diri saat fashion show dadakan, Jumat (24/4/2026).
Momen tak biasa itu terjadi usai Wakil Bupati Semarang, Nur Arifah membacakan sambutan Bupati dan melanjutkan tausiyah tentang makna halalbihalal serta semangat Kartini, di Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Kabupaten Semarang Jl. Fatmawati No. 161, Krekesan, Lopait, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang.
Dalam penyampaiannya, dia menegaskan bahwa perempuan harus terus belajar, berani, dan berdaya, bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga masyarakat.
“Keluwesan dalam memakai kain dan kebaya, saya yakin ibu-ibu ini merupakan cerminan di dalam melanjutkan perjuangan, meneruskan perjuangan Kartini. Perjuangannya sangat luar biasa yaitu untuk belajar, kemudian untuk berkarya, berdaya,” kata Arifah.
Suasana yang semula khidmat perlahan mencair saat sejumlah anggota Komisi D DPRD Kabupaten Semarang datang ke lokasi acara. Kehadiran mereka semakin menghidupkan suasana, terlebih ketika mereka turut menyampaikan ucapan selamat Hari Kartini kepada para peserta.
Namun titik balik terjadi begitu cepat. Tanpa persiapan, tanpa rundown, Arifah tiba-tiba melontarkan ajakan sederhana yang langsung mengubah jalannya acara.
Dia meminta seluruh peserta yang mengenakan kebaya untuk maju ke depan. Ajakan itu langsung diamini salah seorang anggota DPRD perempuan, yang langsung memberikan contoh berlenggak-lenggok di catwalk.
Seolah tak ingin melewatkan kesempatan, para ibu-ibu yang sebagian besar telah memasuki usia matang langsung berdiri. Dengan langkah mantap, mereka mulai berjalan satu per satu, berlenggak-lenggok di depan “juri dadakan”.
Juri itu bukan orang sembarangan. Wakil Bupati dan para anggota DPRD yang baru datang langsung ikut larut, menyimak setiap langkah penuh percaya diri para peserta.
Tak ada panggung megah, tak ada lampu sorot, namun energi yang tercipta justru terasa lebih hidup. Kebaya yang dikenakan menjadi simbol bahwa semangat Kartini tidak pernah lekang oleh usia.
Tawa pecah, tepuk tangan mengiringi, dan suasana semakin hangat ketika para juri justru melakukan hal tak terduga. Mereka spontan patungan, mengumpulkan uang untuk dijadikan hadiah bagi para peserta.
“Alhamdulillah tadi ada juga anggota DPRD, karena itu mereka juga saya minta untuk jadi juri. Kemudian kita patungan (spontan mengumpulkan uang hadiah),” ujar Arifah.
Tak ada juara satu, dua, atau tiga. Panitia dan juri sepakat bahwa semua layak diapresiasi, karena yang ditampilkan bukan sekadar gaya, melainkan keberanian dan semangat.
“Kita memang sengaja enggak pilih nomor 1, 2, 3 tapi karena tadi peminatnya ternyata banyak. Artinya bahwa para anggota GWS yang usianya sudah tidak muda lagi tapi tetap bersemangat di dalam perjuangan Ibu Kartini,” bebernya.
Ketua panitia, Siti Nurhayati, menegaskan bahwa momen ini hanyalah puncak dari rangkaian panjang kegiatan GWS yang fokus pada pemberdayaan perempuan.
“Sebelumnya kami sudah mengadakan berbagai kegiatan, mulai dari potong rambut gratis di panti asuhan, pembagian sayur untuk masyarakat, hingga pelatihan merias diri yang kami lakukan bersama komunitas perempuan di beberapa tempat,” jelasnya.
Menurutnya, anggota GWS yang mayoritas merupakan perempuan senior justru memiliki kekuatan tersendiri. Mereka tidak hanya memiliki pengalaman, tetapi juga waktu dan kepedulian sosial yang tinggi.
“Justru karena sudah matang, mereka bisa lebih leluasa berkontribusi. Tenaga, pikiran, bahkan kepedulian mereka sangat besar untuk masyarakat,” tambahnya.
Fashion show dadakan ini pun menjadi lebih dari sekadar hiburan. Ia berubah menjadi ruang ekspresi, tempat perempuan membuktikan bahwa usia bukan batas untuk tampil, percaya diri, dan memberi inspirasi.
Editor : Enih Nurhaeni
Artikel Terkait
