Lansia Tetap Aktif Berwisata, Alumni SAA Semarang Jelajahi Bandung dan Lembang

Taufik Budi
Lansia Tetap Aktif Berwisata, Alumni SAA Semarang Jelajahi Bandung dan Lembang. Foto: iNewsJoglosemar.id/Taufik Budi

 

BANDUNG, iNewsJoglosemar.id – Rambut yang mulai memutih dan usia yang sebagian besar telah memasuki kepala tujuh hingga delapan tidak mengurangi semangat para alumni Sekolah Asisten Apoteker (SAA) Yayasan Pharmasi Semarang untuk terus berkumpul. Sebanyak 70 alumni dari berbagai angkatan mengikuti reuni akbar di Bandung, Jawa Barat, pada Juni 2026.

Mereka berasal dari lulusan tahun 1965 hingga 1980. Sebagian datang bersama pasangan, sebagian lagi datang sendiri demi bertemu sahabat lama yang telah puluhan tahun menjadi bagian perjalanan hidup mereka.

Selama tiga hari, para alumni menikmati berbagai kegiatan wisata dan kebersamaan di Bandung dan Lembang. Mulai dari kawasan Braga, The Great Asia Afrika, hingga Tangkuban Perahu menjadi destinasi yang dikunjungi.

Ketua panitia reuni, Tri Kartono Andries atau yang akrab disapa Andries, mengatakan Bandung dipilih setelah mempertimbangkan kenyamanan dan akses perjalanan bagi para peserta.

"Kita pilih Bandung karena jalur tolnya juga dekat. Dari Semarang ke Bandung itu hanya lima jam. Jadi kita pilih Bandung. Bandung dan Lembang lebih nyaman buat para peserta," ujarnya.

Menurut Andries, jumlah peserta tahun ini mencapai sekitar 70 orang yang berasal dari sejumlah angkatan berbeda.

"Pesertanya total sekarang ini 70-an. Terdiri dari angkatan 65, 67, 68, 69, 70 dan 71. Rekornya tetap angkatan 70, di bawahnya baru 71," katanya.

Meski sebagian besar peserta sudah berstatus pensiunan dan memasuki usia lanjut, semangat mengikuti seluruh agenda tetap tinggi.

Andries mengaku sengaja menyusun kegiatan yang tidak hanya berfokus pada acara formal, tetapi juga menghadirkan pengalaman wisata yang menyenangkan.

"Kalau ke Lembang, Tangkuban Perahu itu kan menyenangkan. Kita bersama-sama ramai-ramai. Acara ini sangat happy," ujarnya.

Menurut dia, kebersamaan yang terjalin selama perjalanan justru menjadi nilai utama dari reuni tahunan tersebut.

Ia menceritakan banyak momen lucu yang terjadi selama kegiatan berlangsung. Mulai dari peserta yang saling mengenang masa sekolah hingga cerita tentang kesulitan menggunakan teknologi modern.

"Karena lansia-lansia ya biasalah. Mereka pada gaptek. Ceritanya lucu-lucu. Itu sangat menyenangkan," kata Andries sambil tersenyum.

Panitia bahkan menyiapkan dua bus besar yang seluruh kursinya terisi penuh oleh peserta.

"Setiap bus diisi 36 orang penuh tanpa ada sisa tempat duduk. Sangat menyenangkan," ujarnya.

Selain menjadi ajang wisata, reuni juga menjadi ruang untuk menjaga ikatan persahabatan yang telah terjalin selama puluhan tahun.

Perwakilan alumni angkatan 1971, Agustiani Djuanda yang akrab dipanggil Inge, mengaku sempat tidak tertarik mengikuti reuni.

Namun setelah diajak menghadiri reuni di Bali beberapa tahun lalu, ia justru menjadi peserta yang selalu hadir setiap tahun.

"Saya ikut reuni itu sejak di Bali. Berarti ini reuni yang keempat. Dulu-dulu saya enggak pernah ikut, rasanya enggak tertarik. Setelah ikut reuni di Bali, ketagihan ikut terus sampai empat kali," katanya.

Menurut Inge, daya tarik utama reuni bukanlah destinasi wisatanya, melainkan kesempatan bertemu kembali dengan teman-teman sekolah yang telah lama berpisah.

Ia mengatakan suasana yang tercipta selalu penuh tawa dan kebahagiaan.

"Kalau kumpul dengan teman-teman sekolah itu kita bisa happy," ujarnya.

Meski demikian, Inge berharap lokasi reuni ke depan semakin ramah bagi peserta lanjut usia.

Pasalnya, sebagian peserta mulai mengalami keterbatasan fisik yang membuat perjalanan menanjak menjadi tantangan tersendiri.

"Saya usul sama Pak Ketua, jangan yang ngetrap-ngetrap. Soalnya kasihan yang tua-tua kalau trap-trap," katanya sambil tertawa.

Namun ia mengakui sebagian besar peserta tetap berusaha menikmati seluruh rangkaian kegiatan.

"Tadi ada yang beberapa kakinya sakit. Soalnya teman-teman sebagian besar enggak olahraga. Harusnya olahraga supaya ototnya kuat, bisa nanjak," ujarnya.

Senada dengan Inge, alumni angkatan 1971 lainnya, Suharti, menilai reuni tahunan memiliki makna yang jauh lebih besar dibanding sekadar perjalanan wisata.

Menurut dia, acara tersebut menjadi kesempatan langka bagi para alumni untuk melepas rindu sekaligus menjaga tali persaudaraan.

"Diusahakan lokasinya itu yang nyaman, yang tidak terlalu jauh, tidak melelahkan. Tapi tetap harus enjoy, harus pokoknya rasanya senang. Ada rasa kangen antar alumni," kata Suharti.

Ia mengungkapkan jumlah peserta reuni tahun ini sebenarnya menurun dibanding beberapa tahun sebelumnya.

Pada reuni terdahulu, jumlah peserta bahkan pernah mencapai lebih dari seratus orang.

"Tahun kemarin pesertanya bisa sampai 110. Tapi untuk tahun ini hanya 70. Karena tahun ini diadakan bertepatan dengan liburan anak sekolah. Jadi banyak oma dan opa yang memilih pergi bersama keluarga," ujarnya.

Meski demikian, Suharti bersyukur antusiasme peserta tetap tinggi.

Sebagai salah satu panitia, ia mengaku ikut merasakan kebahagiaan ketika melihat para alumni menikmati seluruh rangkaian kegiatan.

"Alhamdulillah dan saya selaku panitia juga membantu. Cukup repot, tapi menyenangkan. Karena inilah yang bisa saya berikan untuk teman-teman, untuk membahagiakan mereka," katanya.

Suharti mengaku selama beberapa tahun terakhir selalu membantu penyelenggaraan reuni bersama Andries.

Ia bahkan berharap kepemimpinan Andries tetap dipertahankan karena dianggap berhasil menjaga kekompakan para alumni.

"Tadi Pak Ketua Umum menyampaikan harus regenerasi ke 71, tapi terus terang untuk Ketua Umum kami tetap bertahan untuk Pak Andries. Saya siap membantu," ujarnya.

Menurut Suharti, kekompakan alumni angkatan 1971 menjadi salah satu kekuatan yang membuat hubungan mereka tetap erat hingga sekarang.

"Alhamdulillah bisa saya koordinir dan didukung teman-teman baik secara moril maupun materil. Jadi untuk mengkoordinir 71 itu sangat mudah," katanya.

Ia menyebut kebersamaan itu tidak hanya terlihat saat reuni berlangsung.

Ketika ada teman yang sakit, para alumni berusaha menjenguk. Saat ada kabar duka, mereka juga hadir memberikan dukungan kepada keluarga yang ditinggalkan.

"Kalau ada yang sakit kita menengok mereka. Ada yang meninggal juga kita berempati kepada mereka secara kebersamaan," ujar Suharti.

Bagi Suharti, alasan utama reuni harus terus dilaksanakan setiap tahun adalah karena kerinduan yang selalu muncul di antara para alumni.

"Reuni itu insyaallah diadakan setiap tahun karena kita justru kangen," katanya.

Di usia yang terus bertambah, para alumni menyadari kesempatan untuk berkumpul tidak selalu datang setiap saat.

Karena itu, setiap reuni menjadi momen berharga yang dimanfaatkan sebaik mungkin untuk berbagi cerita, tertawa bersama, dan mengenang masa-masa sekolah.

 

 

Editor : Enih Nurhaeni

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network