SEMARANG, iNewsJoglosemar.id – Suara cetok yang mengaduk semen dan ketukan palu terdengar silih berganti di rumah sederhana milik Amin Rahmanto di RT 7 RW 2 Desa Cukil, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang. Rumah yang selama bertahun-tahun berdiri tanpa plester, dindingnya masih berupa bata merah, kini perlahan berubah menjadi hunian yang lebih layak berkat Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-129 Tahun 2026.
Amin tak mampu menyembunyikan rasa syukur saat melihat personel TNI bersama warga bergotong royong memperbaiki rumahnya. Bagi pria itu, bantuan yang diterimanya bukan sekadar renovasi bangunan, tetapi juga harapan baru bagi keluarganya untuk hidup lebih nyaman dan aman.
"Dulu rumah ini belum diplester, belum diaci, apalagi dicat. Kalau hujan terasa lembap dan dindingnya mudah kotor. Sekarang sudah mulai diperbaiki. Saya benar-benar bersyukur," ujar Amin, Minggu (2/8/2026).
Rumah Amin menjadi satu dari 13 rumah warga yang masuk sasaran program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dalam TMMD Reguler ke-129 Kodim 0714/Salatiga. Perbaikan dilakukan secara bertahap, mulai dari plester dinding, acian, hingga penyempurnaan bagian rumah lainnya agar lebih sehat dan layak dihuni.
Yang membuat Amin semakin terharu adalah semangat gotong royong yang terus hidup selama pengerjaan berlangsung. Personel TNI, tetangga, hingga keluarga bergantian membantu menyelesaikan setiap tahapan pembangunan.
"Yang mengerjakan bukan hanya bapak-bapak TNI, tetapi juga tetangga dan saudara-saudara kami. Rasanya seperti seluruh kampung ikut membantu. Kami sekeluarga benar-benar berterima kasih," katanya.
Babinsa Desa Cukil Koramil Tengaran, Serka Kundori, menjelaskan sebanyak 13 rumah warga di Desa Cukil mendapat bantuan RTLH. Kondisi rumah penerima berbeda-beda, mulai dari renovasi ringan hingga pembongkaran total karena dinilai sudah tidak layak ditempati.
"Seluruh penerima sudah melalui proses pendataan dan survei bersama pemerintah desa. Ada rumah yang cukup direnovasi sebagian, namun ada juga yang harus dibangun kembali karena kondisinya memang sudah memprihatinkan," jelasnya.
Menurut Kundori, setiap rumah dikerjakan oleh lima hingga sepuluh orang yang terdiri atas personel Satgas TMMD dan warga sekitar. Seluruh pekerjaan ditargetkan rampung sebelum penutupan TMMD pada 10 Agustus 2026.
Selain membantu memperbaiki rumah warga, TMMD Reguler ke-129 juga mengerjakan pembangunan jalan rabat beton sepanjang 1,25 kilometer yang menghubungkan Desa Cukil, Kecamatan Tengaran, dengan Desa Kemetul, Kecamatan Susukan. Program tersebut juga mencakup rehabilitasi musala, pembangunan TPQ, pembangunan pos kamling, hingga berbagai kegiatan penyuluhan bagi masyarakat.
Komandan Kodim 0714/Salatiga, Letkol Kav Fajar Hapsari Nugroho, mengatakan TMMD tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga memperkuat kebersamaan antara TNI dan masyarakat.
"Yang paling penting adalah manfaatnya bisa langsung dirasakan masyarakat. Semangat gotong royong inilah yang menjadi kekuatan utama TMMD," katanya.
Bupati Semarang, Ngesti Nugraha, menambahkan pembangunan jalan dan RTLH dalam TMMD diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.
Menurutnya, jalan penghubung yang dibangun akan memperlancar mobilitas warga sekaligus memangkas biaya distribusi hasil pertanian karena akses menuju desa tetangga menjadi lebih mudah.
"Melalui kolaborasi antara TNI, Polri, pemerintah daerah, pemerintah desa, dan masyarakat, pembangunan di pedesaan dapat dipercepat. Dampaknya bukan hanya pada infrastruktur, tetapi juga peningkatan ekonomi masyarakat," ujar Ngesti.
Selain pembangunan fisik, TMMD Reguler ke-129 juga menghadirkan berbagai kegiatan nonfisik, seperti penyuluhan bahaya narkoba, edukasi keselamatan berlalu lintas, hingga sosialisasi pentingnya penggunaan helm bagi masyarakat.
Editor : Enih Nurhaeni
Artikel Terkait
