750 Warga Ngoho Krisis Air, Pemuda Kenteng Konvoi Bawa 16.000 Liter Air Bersih

Taufik Budi
750 Warga Ngoho Krisis Air, Pemuda Kenteng Konvoi Bawa 16.000 Liter Air Bersih. (Foto: Istimewa).

SEMARANG, iNewsJoglosemar.id - Kekeringan kembali melanda Dusun Ngoho, Desa Kemitir, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang. Sebanyak tujuh RT dengan sekitar 750 jiwa terdampak kekurangan air bersih.

Setiap musim kemarau, deretan jeriken warga menjadi pemandangan biasa di titik-titik dropping air. Warga harus bergantung pada bantuan air bersih dari berbagai pihak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kondisi tersebut memunculkan gerakan warga bantu warga. Solidaritas datang dari daerah lain, salah satunya pemuda Desa Kenteng, Kecamatan Bandungan, yang berkolaborasi dengan pengurus Desa Bersinar (Bersih Narkoba).

Pada Sabtu (12/9/2026), mereka mengirimkan 16.000 liter air bersih ke Dusun Ngoho. Bantuan tersebut dibawa menggunakan 16 mobil pikap milik warga yang bergerak secara konvoi menuju Desa Kemitir.

"Bantuan dibawa dengan 16 mobil pikap milik warga, kita tadi konvoi untuk mengirim bantuan air," kata tokoh masyarakat Bandungan, Handika Gusni Rahmulya.

Menurut Handika, bantuan tersebut merupakan bentuk solidaritas antarwarga karena jarak Desa Kenteng dan Desa Kemitir relatif dekat.

"Ini adalah gerakan warga bantu warga, cara kita membangun solidaritas. Apalagi antar Desa Kenteng dengan Desa Kemitir jaraknya tidak jauh, tadi konvoi membawa bantuan air," ujar anggota DPRD Kabupaten Semarang ini.

Handika berharap distribusi bantuan air dapat menjangkau seluruh warga yang membutuhkan. Terlebih, pembagian air di Dusun Ngoho telah dilakukan secara terstruktur sehingga berjalan kondusif.

"Apalagi di Ngoho ini, pembagian air juga sudah terstruktur, jadi kondusif dan semua warga mendapatkan air. Selain itu, jarak antara Kemitir dengan Kenteng ini terhitung dekat," katanya.

Dia mengatakan kegiatan sosial serupa akan terus dilakukan untuk membantu meringankan beban warga yang terdampak kekeringan.

"Kita sudah dua kali mengirim bantuan, termasuk kolaborasi dengan lembaga lain," ujarnya.

Kepala Desa Kemitir Puji Utomo mengatakan kekeringan tahun 2026 termasuk yang paling parah. Hujan tidak turun selama sekitar tiga bulan sehingga krisis air semakin dirasakan warga.

"Paling terdampak warga di tujuh RT, sekira 750 jiwa. Karena itu meski hanya satu tetes air, bantuan yang diberikan sangat berarti bagi warga kami," ungkapnya.

Puji mengatakan distribusi air dilakukan dengan prinsip pemerataan. Jumlah air yang diterima warga disesuaikan dengan ketersediaan bantuan, tetapi setiap rumah mendapatkan jatah yang sama.

"Kalau bantuan hanya cukup satu jeriken per rumah, maka semua dapat satu jeriken juga, kalau dua ya dua semua. Kalau ada yang belum dapat, di bantuan selanjutnya diantrekan paling depan," kata dia.

Selain mengandalkan dropping air, pemerintah desa bersama berbagai pihak masih berupaya mencari sumber air baru. Upaya tersebut dilakukan dengan mengusulkan bantuan kepada Badan Geologi Bandung, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Pemkab Semarang, hingga melalui Dana Desa.

Persoalan sumber air menjadi tantangan karena tujuh sumur yang tersedia hanya memiliki air saat musim penghujan. Ketika kemarau panjang datang, sumur-sumur tersebut kembali kering.

Bagi warga, bantuan dropping air membuat kondisi tahun ini sedikit lebih ringan. Ika Muryati (29), warga setempat, mengatakan warga pada kemarau sebelumnya bahkan harus membeli air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Saat kemarau parah dan kekeringan melanda, warga bahkan harus membeli air. Kalau tahun ini tidak membeli air karena setiap dua hari sekali ada bantuan dropping air," kata Ika.

 

 

 

Editor : Enih Nurhaeni

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network