SEMARANG, iNewsJoglosemar.id - Warga Dusun Ngoho, Desa Kemitir, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang, yang setiap tahun menghadapi kekeringan kini dihantui kekhawatiran lain. Rencana pengeboran Gunung Ungaran untuk proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) dikhawatirkan membuat krisis air di wilayah mereka semakin parah.
Kekhawatiran itu disampaikan warga saat mengantre bantuan dropping air bersih, Sabtu (12/9/2026). Jarak Desa Kemitir dengan kawasan Candi Gedong Songo yang disebut menjadi lokasi pengeboran sekitar lima kilometer.
"Ya dengar rencana pengeboran itu, tentu tambah takut. Selain bencana, khawatirnya kekeringan akan semakin parah," kata Zumaroh (33).
Zumaroh mengatakan persoalan air saat ini saja sudah menjadi beban bagi warga. Ketika musim kemarau, sumur-sumur mengering sehingga warga harus mengandalkan bantuan dropping air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Kita memang bergantung pada bantuan, kalau bantuan air datang, dibagi rata yang penting semua dapat air," ujarnya.
Menurut dia, air menjadi kebutuhan utama warga untuk berbagai aktivitas rumah tangga, mulai dari memasak hingga kebutuhan minum dan makan.
"Semua kan perlu air, mulai dari masak, makan minum, sampai kebutuhan yang lain perlu air. Karena sumur kering tidak ada air, karenanya warga kesusahan," kata dia.
Karena itu, Zumaroh berharap pemerintah melakukan kajian mendalam sebelum rencana pengeboran Gunung Ungaran dilaksanakan.
"Kalau bisa dipertimbangkan ulang, pikirkan rakyat lebih dulu lah," katanya.
Kekhawatiran serupa disampaikan warga lainnya, Ika Muryati (29). Menurut Ika, persoalan kekeringan yang setiap tahun dialami warga semestinya menjadi perhatian sebelum pemerintah menjalankan proyek baru.
"Menurut saya lebih baik mengatasi persoalan mendasar yang dialami rakyat, seperti kekeringan yang terjadi setiap tahun ini," ujarnya.
Ika mengatakan pada musim kemarau parah warga sebelumnya harus membeli air. Namun tahun ini kebutuhan air masih terbantu oleh dropping yang datang secara berkala.
"Kalau tahun ini tidak membeli air karena setiap dua hari sekali ada bantuan dropping air," katanya.
Kepala Desa Kemitir Puji Utomo mengatakan kekeringan tahun ini termasuk yang paling parah. Selama sekitar tiga bulan tidak turun hujan, sedikitnya tujuh RT dengan sekitar 750 jiwa terdampak kekurangan air.
"Paling terdampak warga di tujuh RT, sekira 750 jiwa. Karena itu meski hanya satu tetes air, bantuan yang diberikan sangat berarti bagi warga kami," ungkapnya.
Distribusi bantuan air dilakukan secara merata agar seluruh warga mendapatkan jatah. Jika jumlah bantuan terbatas, setiap rumah memperoleh jumlah yang sama.
"Kalau bantuan hanya cukup satu jeriken per rumah, maka semua dapat satu jeriken juga, kalau dua ya dua semua. Kalau ada yang belum dapat, di bantuan selanjutnya diantrekan paling depan," kata Puji.
Pemdes Kemitir bersama berbagai pihak juga terus berupaya mencari sumber air untuk mengatasi persoalan kekeringan. Upaya tersebut antara lain dilakukan dengan mengupayakan bantuan dari Badan Geologi Bandung, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Pemkab Semarang, dan melalui Dana Desa.
Namun, tujuh sumur yang ada di wilayah tersebut hanya mengeluarkan air saat musim penghujan. Ketika kemarau datang, sumur-sumur itu kembali kering.
Di tengah kondisi tersebut, bantuan air datang dari pemuda Desa Kenteng, Kecamatan Bandungan, yang tergabung dalam gerakan Desa Bersinar (Bersih Narkoba). Sebanyak 16.000 liter air dikirimkan untuk membantu memenuhi kebutuhan warga Ngoho.
Anggota DPRD Kabupaten Semarang Handika Gusni Rahmulya mengatakan bantuan tersebut merupakan bentuk solidaritas antarwarga. Air bersih dibawa menggunakan 11 mobil pikap dan dikirim secara konvoi dari Desa Kenteng menuju Desa Kemitir.
"Ini adalah gerakan warga bantu warga, cara kita membangun solidaritas. Apalagi antar Desa Kenteng dengan Desa Kemitir jaraknya tidak jauh, tadi konvoi membawa bantuan air," ujar Handika.
Dia berharap bantuan tersebut dapat membuat seluruh warga tetap memperoleh air meski menghadapi kekeringan.
"Dengan bantuan ini kami berharap semua warga bisa menikmati air meski sedang kekeringan. Apalagi di Ngoho ini, pembagian air juga sudah terstruktur, jadi kondusif dan semua warga mendapatkan air," katanya.
Editor : Enih Nurhaeni
Artikel Terkait
