get app
inews
Aa Text
Read Next : 2.570 Lampion Terangi Langit Borobudur, Waisak Dongkrak Hunian Hotel dan UMKM Warga

17 Bante Thudong Menuju Candi Sewu, Tanjakan Gombel Semarang Jadi Medan Terberat

Selasa, 26 Mei 2026 | 07:13 WIB
header img
17 Bante Thudong Menuju Candi Sewu, Tanjakan Gombel Semarang Jadi Medan Terberat. Foto: Ist

SEMARANG, iNewsJpglosemar.id - Sebanyak 17 bante mengikuti perjalanan spiritual Thudong Walk For Peace dari Jepara menuju Candi Sewu Klaten dengan berjalan kaki selama belasan hari menjelang perayaan Waisak 2026. Dalam perjalanan tersebut, para bante mengaku harus menghadapi medan berat, termasuk tanjakan Gombel di wilayah Kota Semarang.

Bhikkhu Accacitto Thera selaku penanggung jawab peserta Thudong Walk For Peace mengatakan perjalanan yang mereka tempuh bukan perkara mudah karena kondisi jalan yang menanjak serta cuaca panas menguras tenaga para peserta.

“Bante juga lama menunggu jalannya. Bante nya berusaha untuk cepat tapi ternyata jalannya tidak rata,” ujar Bhikkhu Accaacitto Thera saat ditemui di Kabupaten Semarang, Senin (25/5/2026) malam.

Ia mengaku tanjakan Gombel menjadi salah satu jalur paling berat selama perjalanan berlangsung. Selain kondisi jalan yang menanjak, cuaca panas membuat fisik para bante semakin terkuras.

“Yang menurut saya yang paling berat ya di sana karena panas lagi. Naiknya kayak gitu. Kakinya ini sudah agak-agak lelah karena sudah dipakai selama 4 hari,” katanya.

Bhikkhu Accacitto bahkan mengaku baru pertama kali berjalan kaki melewati kawasan Gombel sepanjang hidupnya. Biasanya ia melintasi kawasan tersebut menggunakan kendaraan.

“Seumur hidup saya baru sekali ini. Biasane ya naik mobil. Kalau dulu naik motor. Nah, ini malah suruh jalan kaki,” ucapnya sambil tersenyum.

Meski berat, ia menegaskan perjalanan tersebut menjadi pembelajaran bahwa segala sesuatu bisa dilalui jika dijalani perlahan tanpa memaksakan diri.

“Tapi semua walaupun jauh walaupun berat tapi kalau dijalani ya selangkah selangkah nyatanya juga bisa selesai. Jadi yang penting enggak ngoyo,” ungkapnya.

Perjalanan Thudong Walk For Peace dimulai sejak 20 Mei 2026 setelah pelepasan yang dihadiri sejumlah tokoh daerah. Rombongan dijadwalkan tiba di Candi Sewu pada 31 Mei 2026 untuk pelaksanaan rangkaian Waisak.

“Jadi kita mulai start perjalanan itu pada tanggal 20 Mei pagi. Nanti kita akan sampai di Klaten itu tanggal 30 untuk melanjutkan kirab Waisak tanggal 31 menuju Candi Sewu,” jelasnya.

Menurutnya, perjalanan kali ini berbeda dari Thudong sebelumnya yang identik menuju Candi Borobudur dan melibatkan bante luar negeri. Tahun ini seluruh peserta merupakan bante asal Indonesia sehingga panitia mengangkat nilai kearifan lokal.

“Ini bukan ke Borobudur ya. Karena ini bante-bantenya semua dalam negeri, enggak ada luar negeri. Jadi kita mengangkat kearifan lokal,” paparnya.

Ia menjelaskan pemilihan Candi Sewu juga memiliki alasan historis karena kompleks candi tersebut dikenal sebagai salah satu candi tertua di Indonesia.

“Candi Sewu kan merupakan salah satu candi yang lebih tua dari Borobudur. Jadi kami memilih di sana untuk melakukan upacara Waisak,” lanjutnya.

Selain perjalanan spiritual, kegiatan tersebut juga membawa pesan perdamaian melalui tema Walk For Peace. Bhikkhu Accaacitto menilai kondisi dunia yang sedang tidak baik-baik saja membuat pesan damai penting terus digaungkan.

“Kita tahu semua kondisi dunia global sekarang ini sedang tidak baik-baik saja. Maka di sini kita ingin menyerukan khususnya di dalam NKRI ini untuk sama-sama hidup dalam satu kebersamaan,” katanya.

Ia berharap masyarakat yang berbeda suku, ras dan agama tetap bisa hidup rukun dan damai.

“Kita beda suku, beda ras, agama juga tidak sama. Jadi kita berharap dengan adanya gaungan Walk For Peace ini kita semua pengin damai, pengin bahagia,” tandasnya.

Kedatangan rombongan Thudong di kawasan Gunung Kalong, Kabupaten Semarang disambut ratusan umat Buddha. Prosesi penyambutan dilakukan dengan tradisi membasuh kaki para bante menggunakan air bunga.

Pengurus TITD Gunung Kalong, Karbono, mengatakan tradisi tersebut merupakan bentuk penghormatan umat kepada para bhikkhu yang menjalani perjalanan spiritual.

“Sebagai wujud penghormatan kami umat Buddha membasuh kaki bante yang melakukan perjalanan spiritual,” ujarnya.

Ia menyebut lebih dari 300 umat hadir untuk menyambut rombongan 17 bante tersebut.

“Persiapan kami umat sini tadi ada mungkin 300 lebih yang hadir untuk menyambut Bhikkhu Thudong,” katanya.

Karbono menambahkan perjalanan Thudong juga menjadi simbol moderasi dan toleransi antarumat beragama karena selama perjalanan para bante banyak dibantu masyarakat lintas agama.

“Di Thudong ini banyak dibantu oleh sahabat-sahabat keluarga kami umat muslim, umat Katolik, umat Kristen dan lainnya. Jadi ini adalah sebuah wujud toleransi,” ucapnya.

Sementara itu, salah satu warga bernama Dahmi mengaku sengaja datang bersama rombongan dari Wihara Darmapala Depongan untuk mengikuti penyambutan para bante di Gunung Kalong.

Perempuan berusia 60 tahun itu mengatakan air bekas membasuh kaki bante dipercaya membawa doa dan harapan baik bagi umat.

“Biar diberi kesehatan, diberi berkah, biar sehat, biar waras,” kata Dahmi.

 

 

 

Editor : Enih Nurhaeni

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut