Terungkap! Mantan Artis Cantik Direkrut Sindikat Penipuan Online untuk Video Call Korban
SEMARANG, iNewsJoglosemar.id – Di balik jaringan penipuan online internasional yang dibongkar Direktorat Reserse Siber Polda Jawa Tengah, terdapat satu peran yang menjadi kunci keberhasilan para pelaku menipu korban hingga miliaran rupiah. Peran tersebut dijalankan seorang perempuan yang disebut sebagai mantan artis dan bertugas meyakinkan korban melalui panggilan video.
Keberadaan perempuan berinisial F itu terungkap dalam pengembangan kasus penipuan online bermodus pig butchering yang beroperasi di wilayah Solo Raya. Dalam jaringan tersebut, F tidak bertugas mencari korban maupun menawarkan investasi, melainkan berperan sebagai sosok yang tampil di depan kamera ketika korban mulai menaruh curiga.
Direktur Reserse Siber Polda Jateng Kombes Pol Himawan Sutanto Saragih mengatakan jaringan tersebut memiliki pola kerja yang sangat terstruktur. Setiap orang memiliki tugas berbeda mulai dari asisten marketing, marketing, leader hingga model.
Menurut Himawan, para marketing sebenarnya hanya bertugas membangun hubungan emosional dengan korban melalui aplikasi kencan maupun media sosial. Namun ketika korban meminta pembuktian identitas melalui video call, para marketing tidak dapat menampilkan wajah mereka sendiri.
Hal itu karena sebagian besar akun yang digunakan merupakan identitas palsu. Bahkan banyak marketing yang sebenarnya laki-laki tetapi berpura-pura menjadi perempuan untuk menarik perhatian korban.
"Marketing itu tugasnya dia berpura-pura menjadi wanita. Jadi marketing itu bisa laki-laki bisa perempuan, tapi lebih banyak laki-laki," ujar Himawan dalam konferensi pers di Mapolda Jateng, Senin (1/6/2026).
Untuk mengatasi keraguan korban, sindikat tersebut menyiapkan seorang model perempuan yang bertugas khusus melayani panggilan video. Ketika korban meminta berbicara secara langsung, model itulah yang akan tampil menggantikan identitas palsu yang selama ini digunakan marketing.
"Apabila korban butuh keyakinan maka yang tampil bukan marketing tapi model," kata Himawan.
Penyidik mengungkapkan bahwa model tersebut bukan sekadar peminjam wajah untuk foto profil media sosial. Ia memiliki tugas aktif dalam operasi penipuan dengan melakukan video call sesuai kebutuhan para marketing.
"Model yang dapat kami amankan ini tugasnya adalah melayani video call sesuai dengan yang diinginkan korban," jelas Himawan.
Melalui video call tersebut, korban diyakinkan bahwa perempuan yang selama ini berkomunikasi dengannya memang nyata. Dengan demikian, tingkat kepercayaan korban meningkat dan peluang mereka melakukan investasi menjadi lebih besar.
Dalam praktiknya, model tidak bekerja secara mandiri. Ia telah dibekali arahan dan skenario yang harus disampaikan kepada korban sesuai kebutuhan jaringan.
"Nah, pada saat si korban itu akan melakukan melihat wajahnya si orang wanita itu, maka yang muncul adalah model. Dan model itu sudah disiapkan skripnya," ungkap Himawan.
Keberadaan model menjadi bagian penting dalam skema pig butchering yang dijalankan sindikat tersebut. Sebab, sebagian besar korban baru bersedia menanamkan dana setelah merasa yakin bahwa hubungan yang dibangun selama ini benar-benar nyata.
Hasil penyidikan juga menemukan sejumlah barang bukti yang berkaitan dengan aktivitas model. Salah satunya adalah meja rias yang digunakan untuk menunjang penampilan saat melakukan panggilan video dengan korban.
Polisi bahkan menyita satu unit meja rias yang ditemukan saat penggerebekan. Barang tersebut menjadi salah satu bukti adanya peran khusus model dalam jaringan tersebut.
"Nah, ini meja rias model. Ini meja riasnya yang digunakan oleh model," kata Himawan saat menunjukkan barang bukti kepada wartawan.
Menurut penyidik, model memiliki ruang tersendiri dan tidak berinteraksi langsung dengan seluruh anggota jaringan. Sistem ini sengaja dibuat untuk menjaga kerahasiaan operasi dan membatasi informasi yang diketahui masing-masing pelaku.
"Dia punya ruangan tersendiri. Dia tidak kenal dengan tim-tim marketing yang lain. Dia punya privacy-nya sendiri," ujar Himawan.
Dalam konferensi pers, Himawan juga mengungkap identitas umum perempuan yang berperan sebagai model tersebut. Meski tidak menyebut detail identitasnya, ia memastikan bahwa perempuan itu berasal dari kalangan hiburan.
"Yang jelas model dari mantan artis," kata Himawan.
Pernyataan tersebut langsung menarik perhatian karena menunjukkan bagaimana jaringan penipuan internasional memanfaatkan figur yang memiliki kemampuan tampil di depan kamera untuk memperkuat tipu daya mereka.
Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, model tersebut menerima bayaran seperti anggota jaringan lainnya. Para pelaku dalam jaringan ini diketahui memperoleh gaji bulanan dan bonus apabila berhasil mencapai target yang ditentukan.
"Modelnya sama juga. Mereka digaji. Kalau melampaui target biasanya dikasih bonus sekitar Rp20 sampai Rp30 juta," ungkap Himawan.
Kasus ini menunjukkan bahwa sindikat penipuan online modern tidak lagi hanya mengandalkan pesan singkat atau akun palsu. Mereka bahkan membangun struktur organisasi yang menyerupai perusahaan dengan pembagian tugas yang rinci untuk meyakinkan calon korban.
Dalam perkara ini, keberadaan model menjadi salah satu faktor yang membuat korban semakin percaya dan akhirnya bersedia menyetorkan dana ke platform investasi palsu yang telah disiapkan jaringan.
Polda Jateng masih terus mengembangkan penyidikan untuk mengungkap kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat dalam sindikat tersebut, termasuk menelusuri pihak-
Editor : Enih Nurhaeni