Penyandang Disabilitas di Semarang Dilatih Jadi Teknisi HP, Siap Naik Kelas ke Servis iPhone
SEMARANG, iNewsJoglosemar.id – Kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas tidak selalu harus melalui jalur formal. Di Kota Semarang, puluhan penyandang disabilitas dibekali keterampilan teknisi servis handphone agar mampu membuka usaha mandiri dari rumah.
Pelatihan yang digelar LPK Quantum Telecommunication tersebut kini memasuki batch kedua dengan melibatkan 10 peserta penyandang disabilitas dari berbagai daerah di Jawa Tengah.
Selama tujuh hari, peserta mendapatkan pelatihan intensif mulai dari pengenalan alat, mengenali komponen handphone hingga menganalisis kerusakan perangkat, di lokasi pelatihan Jl.Bina Remaja No.4 Banyumanik Semarang..
Setelah pelatihan selesai, peserta akan menjalani program magang selama satu bulan di sejumlah konter servis yang telah disiapkan penyelenggara.
Salah satu peserta, Suwanto, mengaku tertarik mengikuti pelatihan karena melihat peluang tambahan penghasilan dari profesi teknisi handphone.
Pria yang selama ini berkecimpung di dunia otomotif tersebut mengatakan pelatihan servis HP bukan untuk menggantikan pekerjaan lamanya, melainkan menambah sumber pendapatan.
"Karena yang saya kejar adalah money. Menambah lagi wirausaha yang lain lagi. Menambah income masuk lagi," ujar Suwanto, Senin (22/6/2026).
Menurutnya, materi yang diberikan cukup berbeda dibanding pekerjaannya sebagai teknisi motor roda tiga bagi penyandang disabilitas.
Jika selama ini terbiasa menangani mesin kendaraan, kini ia harus mempelajari komponen elektronik berukuran kecil yang membutuhkan ketelitian lebih tinggi.
"Kalau motor kan sudah terbiasa untuk merancang. Kalau ini kelihatannya lebih mendetail," katanya.
Pada hari pertama pelatihan, peserta diperkenalkan dengan berbagai peralatan teknisi seperti alat pengukur voltase baterai hingga mikroskop untuk mengamati komponen kecil pada papan mesin handphone.
Tak hanya peserta baru, keberhasilan program juga terlihat dari alumni batch pertama yang mulai membuka usaha servis HP secara mandiri.
Salah satunya adalah Sodik Maskuri, penyandang disabilitas asal Tengaran, Kabupaten Semarang.
Pria berusia 33 tahun itu mengaku memperoleh banyak manfaat setelah mengikuti pelatihan gratis tersebut.
Sebelum mengikuti pelatihan, Sodik telah memiliki kemampuan memperbaiki berbagai peralatan elektronik rumah tangga.
Namun setelah mendapatkan pelatihan servis HP, keterampilannya bertambah dan membuka peluang usaha baru.
"Setelah ada pelatihan servis ini, alhamdulillah menambah skill saya dan insyaallah menambah rezeki saya," ujarnya.
Selama mengikuti pelatihan, Sodik belajar mengenali komponen, menganalisis kerusakan hingga praktik langsung memperbaiki perangkat.
Kini ia sudah mampu menangani sejumlah kerusakan pada ponsel Android seperti penggantian konektor pengisian daya, baterai, LCD hingga tombol perangkat.
Meski belum berani menerima servis iPhone, Sodik berharap ke depan dapat meningkatkan kemampuannya hingga menangani perangkat premium tersebut.
Untuk sementara, ia memilih fokus pada pasar Android yang lebih banyak digunakan masyarakat.
Menurutnya, pelatihan seperti ini masih jarang ditemukan oleh penyandang disabilitas.
Karena itu ia mengaku bersyukur mendapatkan kesempatan belajar secara gratis sekaligus memperoleh perlengkapan kerja.
"Pelatihan handphone itu agak susah bagi disabilitas. Apalagi di LPK Quantum ini memberikan semangat bagi disabilitas karena membuka pelatihan secara gratis dan dibekali alat komplit," katanya.
Owner LPK Quantum, Tomi Sudiarso, mengatakan program pelatihan khusus penyandang disabilitas tersebut telah memasuki angkatan kedua.
Batch pertama dinilai berhasil karena sebagian peserta sudah membuka usaha servis HP dari rumah masing-masing.
Bahkan seluruh peserta mendapatkan bantuan peralatan kerja untuk memulai usaha setelah pelatihan selesai.
"Yang pertama alhamdulillah sudah sukses, magangnya selesai, dan sekarang mereka buka usaha di rumahnya masing-masing. Yang mana peralatannya kita kasih," kata Tomi.
Menurut Tomi, pelatihan dibagi menjadi dua tingkatan.
Level pertama berfokus pada perbaikan dasar seperti mengganti LCD, baterai dan casing belakang.
Sementara level kedua mengajarkan peserta melakukan analisis kerusakan yang lebih kompleks menggunakan alat ukur elektronik.
Meski saat ini materi masih difokuskan pada perangkat Android, Tomi memastikan peserta berpeluang mengikuti kelas lanjutan untuk perbaikan iPhone.
"Nanti akan ada kelas berikutnya yang iPhone. Tentu setelah mereka menguasai yang dasarnya dulu," ujarnya.
Ia menegaskan peserta yang memiliki semangat belajar dapat mengikuti peningkatan kompetensi secara gratis hingga ke level yang lebih tinggi.
Harapannya, para penyandang disabilitas memiliki keterampilan yang benar-benar dapat digunakan untuk mencari nafkah dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.
"Yang penting mereka punya keinginan, mau belajar, kita kasih fasilitas," pungkasnya.
Editor : Enih Nurhaeni