Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : 16 Tahun Mengabdi Jadi Linmas Tanpa Gaji, Mbah Endro: Saya Ikhlas
Advertisement . Scroll to see content

Tiga Hari di Semarang, Sandeep Ray Bawa Film Dokumenter dari Kota Lama hingga Undip

Minggu, 04 Oktober 2026 | 18:09 WIB
  • author Taufik Budi
Tiga Hari di Semarang, Sandeep Ray Bawa Film Dokumenter dari Kota Lama hingga Undip
Tiga Hari di Semarang, Sandeep Ray Bawa Film Dokumenter dari Kota Lama hingga Undip. (Foto: Istimewa).

SEMARANG, iNewsJoglosemar.id – Filmmaker dokumenter Sandeep Ray datang jauh-jauh dari Malaysia. Akademisi sekaligus filmmaker dokumenter dari University of Nottingham Malaysia itu bukan sekadar memberi kuliah. Selama tiga hari, 19–21 September 2026, ia menyusuri Kota Lama Semarang, menyapa komunitas film, mengajar siswa SMA, hingga berdiskusi dengan mahasiswa FISIP UNDIP. Semua dalam satu misi: menjadikan film dokumenter sebagai alat membaca persoalan sosial.

Kegiatan ini bertajuk “SDGs Documentary Film Screenings and Community Dialogues for Social Awareness”. FISIP UNDIP menggandeng University of Nottingham Malaysia untuk memperluas jejaring akademik internasional. Pertukaran pengetahuan tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga menyentuh komunitas dan sekolah.

Hari Pertama: Dialog dengan Komunitas Film di TBRS

Rangkaian dimulai pada Sabtu, 19 September 2026, di Sekretariat Dewan Kesenian Semarang, Taman Budaya Raden Saleh. Sekitar 50 peserta dari berbagai komunitas film hadir, termasuk perwakilan Komite Dewan Kesenian Film Semarang.

Acara dibuka oleh koordinator kegiatan M. Bayu Widagdo, M.I.Kom., dan Ketua KBK Media, Budaya, dan Gender Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UNDIP, Dr. Hapsari Dwiningtyas Sulistyani, S.Sos., M.A., M.Si.

Sandeep memberikan pengantar tentang pembuatan film dokumenter bertema SDGs. Setelah itu, film diputar dan didiskusikan bersama. Film dokumenter tidak hanya dibahas sebagai produk audiovisual, tetapi juga sebagai medium yang merekam realitas sosial dan membangun kesadaran publik.

Hari Kedua: Mendokumentasikan Anak-Anak Kota Lama

Pada Minggu, 20 September 2026, Sandeep menyambangi kelompok kesenian di kawasan Kota Lama Semarang. Ia merekam kegiatan latihan kesenian yang dilakukan anak-anak.

Kunjungan ini memberi ruang bagi Sandeep melihat langsung praktik seni dan budaya yang tumbuh di tengah masyarakat. Aktivitas sehari-hari anak-anak itu menjadi bahan cerita audiovisual. Bagi FISIP UNDIP, kegiatan lapangan ini memperluas makna internasionalisasi. Pertukaran pengetahuan tidak melulu lewat seminar formal, tetapi juga lewat keterlibatan langsung dengan masyarakat.

Hari Ketiga: Dua Sesi, SMA dan Kampus

Pada Senin, 21 September 2026, kegiatan berlanjut melalui program World Class University. Sesi pertama digelar di SMA Negeri 3 Semarang, diikuti sekitar 50 siswa. Hadir Kepala SMA Negeri 3 Semarang Rusmiyanto, S.Pd., M.Pd., dan Dr. Hapsari Dwiningtyas Sulistyani.

Sandeep memperkenalkan bagaimana film dokumenter dapat mengangkat persoalan sosial dan lingkungan. Salah satu film yang ditayangkan mengangkat aktivitas rangers atau penjaga hutan di Aceh yang mencegah dan memantau kebakaran hutan serta lahan.

Para siswa tidak hanya menonton. Mereka diajak memproduksi video dokumenter sederhana dengan mengangkat isu SDGs di lingkungan sekitar. Setiap kelompok mempresentasikan video dan menjelaskan pesan yang ingin disampaikan.

Dialog Akademik di FISIP UNDIP

Sesi kedua berlangsung di Ruang PKM Gedung D FISIP UNDIP. Sekitar 150 mahasiswa hadir. Dekan FISIP UNDIP Prof. Dr. Drs. Teguh Yuwono, M.Pol.Admin., Ketua Departemen Ilmu Komunikasi Dr. Agus Naryoso, S.Sos., M.Si., dan Dr. Hapsari Dwiningtyas Sulistyani turut hadir.

Prof. Teguh menyampaikan harapan agar pertemuan ini tidak berhenti pada seminar. Ia ingin kerja sama kedua institusi berkembang lebih luas pada masa mendatang.

Dr. Agus Naryoso menyoroti antusiasme mahasiswa Ilmu Komunikasi terhadap film dokumenter. Menurutnya, ketertarikan itu bisa menjadi modal mengembangkan kajian komunikasi yang merepresentasikan persoalan sosial.

Dalam sesi utama, Sandeep membahas hubungan antara film dokumenter, komunikasi, dan isu pembangunan berkelanjutan. Materi diperkuat dengan pemutaran film “Aceh Rangers”. Film itu memperlihatkan bagaimana persoalan lingkungan dan pengalaman masyarakat diterjemahkan ke dalam narasi audiovisual.

Sesi tanya jawab memberi kesempatan mahasiswa berdialog langsung dengan Sandeep. Mereka membahas film dokumenter, SDGs, dan kemungkinan menjadikannya objek penelitian.

Menghubungkan Perspektif Global dan Realitas Lokal

Tiga hari, empat lokasi. Dari Taman Budaya Raden Saleh, Kota Lama, SMA Negeri 3 Semarang, hingga FISIP UNDIP. Rangkaian ini mempertemukan komunitas, sekolah, universitas, dan akademisi internasional dalam satu ruang pertukaran pengetahuan.

Film dokumenter menjadi penghubung antara perspektif global dan realitas lokal. Isu SDGs dilihat melalui pengalaman masyarakat yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Kehadiran akademisi dari University of Nottingham Malaysia memberi pengalaman akademik internasional bagi mahasiswa. Ke depan, kerja sama diharapkan berlanjut melalui pendidikan, penelitian kolaboratif, pengembangan film dokumenter, hingga pengabdian masyarakat bertaraf internasional.

Editor: Enih Nurhaeni

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut