Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Sumpah Bumi di Candi Gedong Songo, Warga Bentangkan Bendera 1 Km dan Tolak Geothermal
Advertisement . Scroll to see content

Belajar 2 Tahun di Undip Semarang dan 2 Tahun di Brisbane, Lulus Bawa 2 Ijazah

Senin, 02 November 2026 | 16:50 WIB
  • author Taufik Budi
Belajar 2 Tahun di Undip Semarang dan 2 Tahun di Brisbane, Lulus Bawa 2 Ijazah
Belajar 2 Tahun di Undip Semarang dan 2 Tahun di Brisbane, Lulus Bawa 2 Ijazah. Foto: Ist

 

SEMARANG, iNewsJoglosemar.id – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro (Undip) mengambil langkah besar menuju status fakultas kelas dunia. FISIP Undip resmi menjalin kerja sama program gelar ganda (double degree) dengan Faculty of Humanities, Arts and Social Sciences, University of Queensland (UQ), Australia.

Dekan FISIP Undip, Prof. Dr. Drs. Teguh Yuwono, M.Pol.Admin., menyebut bahwa inovasi ini merupakan wujud komitmen kampus untuk mendorong pertukaran studi yang tidak sekadar kunjungan biasa, melainkan hingga tahap berbagi gelar (degree) dan pengetahuan.

"Jadi, dua tahun di Undip, dua tahun di Australia. Nanti pulang sudah selesai dapat dua ijazah, ijazah Undip dan ijazah UQ," ujar Prof. Teguh saat ditemui di Semarang, Senin (2/11/2026).

Kerja sama ini menyasar tiga program studi yang ada di FISIP Undip. Selain memperkuat kemitraan yang sudah berjalan di Ilmu Komunikasi dan Ilmu Pemerintahan, tahun ini Undip resmi menandatangani perjanjian baru untuk program double degree di Ilmu Hubungan Internasional. 

Majella Ferguson dari University of Queensland mengungkapkan rasa antusiasmenya menyambut mahasiswa dari Semarang untuk belajar di Brisbane, kota kembar (sister city) Semarang.

"Kami sangat senang memiliki kemitraan baru dengan Undip dan kami sangat bersemangat menyambut mahasiswa dari Semarang untuk datang ke Brisbane," ujar Majella.

Skema program ini dirancang dengan konsep 2 + 2. Mahasiswa akan menempuh pendidikan di Undip selama dua tahun, lalu melanjutkan studi di University of Queensland selama satu setengah hingga dua tahun ke depan, tergantung jalur yang dipilih.

Prof. Teguh menegaskan, program ini bukan sekadar pertukaran pelajar biasa. Ke depannya, mahasiswa dari Australia juga akan dikirim ke Undip untuk mempelajari kebudayaan dan politik Indonesia.

"Jadi, kita yang ngirim ke sana double degree, sana juga akan mengirim ke sini. Tujuannya ada mutual understanding yang saling menguntungkan," jelasnya.

Manfaat bagi mahasiswa dinilai sangat besar. Selain membuka peluang berkarir di tingkat internasional, lulusan program ini diyakini memiliki tingkat kepercayaan diri (self confidence) dan pengalaman yang lebih tinggi dibandingkan mahasiswa reguler.

"Yang paling membedakan adalah kalau orang lulusan luar negeri itu self confidence-nya tinggi, pengalamannya tinggi, dan possibility untuk mendapat pekerjaan juga cukup tinggi," terang Prof. Teguh.

Langkah FISIP Undip ini tidak berhenti di jenjang S1. Di tingkat S2, FISIP Undip telah menjalin kerja sama double degree dengan Ryukyu University, Jepang, untuk program Magister Ilmu Politik dan Magister Administrasi Publik.

Sementara di jenjang S3, Undip diklaim telah menjadi magnet bagi mahasiswa internasional. Prof. Teguh menyebut dirinya secara langsung membimbing mahasiswa doktoral dari berbagai negara, mulai dari Tanzania, Pakistan, Madagaskar, Sierra Leone, Vietnam, hingga China.

"Ini menunjukkan bahwa pendidikan di Indonesia juga setingkat dunia. Kita tidak kalah dengan Australia, tidak kalah dengan Jepang. Namanya double degree itu equal, imbang-imbang," tegasnya.

Salah satu mahasiswi Ilmu Pemerintahan yang akan berangkat, Rania Viadani Laman (20), mengaku sangat antusias menyambut peluang ini. Mahasiswi semester 3 asal Tangerang tersebut rencananya akan berangkat ke Australia pada Juli 2027.

"Excited, karena ini kelihatannya seperti opportunity yang sangat bagus," ujar Rania.

Untuk mempersiapkan diri, Rania tengah gencar mengumpulkan informasi, mulai dari latihan bahasa Inggris hingga mencari tahu tentang budaya di sana. Ia juga mulai membiasakan diri secara mental untuk hidup mandiri di negeri orang, mengingat masa studi di Australia cukup lama.

"Saya ada beberapa teman di sana juga, jadi lagi nanya-nanya biar enggak culture shock," pungkasnya.

 

 

Editor: Enih Nurhaeni

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut