get app
inews
Aa Text
Read Next : Salep Ganja dari Thailand Masuk Jateng, Dibeli Rp800 Ribu Lewat Marketplace

Terkuak! Tungku dalam Tenda Jadi Sumber Maut Satu Keluarga di Posong

Selasa, 16 Juni 2026 | 05:33 WIB
header img
Terkuak! Tungku dalam Tenda Jadi Sumber Maut Satu Keluarga di Posong. Foto: iNewsJoglosemar.id/Taufik Budi

 

SEMARANG, iNewsJoglosemar.id – Misteri kematian satu keluarga yang ditemukan tak bernyawa di kawasan Glamping Safari Nomor 3, Taman Wisata Alam Posong, Kabupaten Temanggung, akhirnya terungkap. Setelah hampir tiga pekan dilakukan penyelidikan mendalam, Polda Jawa Tengah memastikan empat korban meninggal dunia akibat keracunan gas karbon monoksida.

Kesimpulan tersebut diumumkan dalam konferensi pers yang digelar di Gedung Borobudur Mapolda Jawa Tengah, Senin (15/6/2026). Polisi menyatakan hasil tersebut diperoleh melalui rangkaian penyelidikan ilmiah atau Scientific Crime Investigation (SCI) yang melibatkan autopsi, pemeriksaan toksikologi, olah tempat kejadian perkara, hingga analisis laboratorium forensik.

Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol Artanto menegaskan bahwa seluruh hasil yang disampaikan berdasarkan bukti ilmiah yang diperoleh selama proses penyelidikan.

“Hari ini kami memaparkan hasil penyelidikan berbasis Scientific Crime Investigation terhadap peristiwa tersebut. Seluruh kesimpulan yang disampaikan didasarkan pada hasil olah TKP, autopsi, pemeriksaan laboratorium forensik, dan rangkaian penyelidikan yang dilakukan secara komprehensif,” ujar Artanto.

Kasus ini sebelumnya menyita perhatian publik setelah empat anggota keluarga ditemukan meninggal dunia di dalam tenda glamping pada Rabu, 27 Mei 2026.

Saat itu, berbagai spekulasi bermunculan mengenai penyebab kematian para korban.

Salah satu dugaan yang sempat berkembang adalah kemungkinan keracunan makanan yang dikonsumsi korban sebelum maupun selama berada di lokasi wisata.

Namun dugaan tersebut akhirnya terpatahkan setelah penyidik melakukan serangkaian pemeriksaan laboratorium terhadap berbagai sampel makanan.

Dirreskrimum Polda Jateng Kombes Pol Muhammad Anwar Nasir mengungkapkan bahwa tim penyidik telah memeriksa seluruh kemungkinan penyebab kematian secara menyeluruh.

“Pada tahap awal kami mendalami kemungkinan keracunan makanan. Namun setelah dilakukan pemeriksaan terhadap makanan yang dibawa korban maupun sisa makanan di rumah korban yang dikonsumsi sebelum keberangkatan, tidak ditemukan zat beracun yang menjadi penyebab kematian," jelasnya.

Polisi juga memeriksa berbagai barang yang ditemukan di lokasi kejadian.

Mulai dari kendaraan, telepon seluler, kamera, kompor portabel, tungku tanah liat, hingga makanan yang berada di sekitar tenda.

Dari seluruh pemeriksaan tersebut, perhatian penyidik kemudian mengarah pada keberadaan tungku tanah liat yang ditemukan berada di dalam tenda.

Padahal sebelumnya petugas pengelola telah mengingatkan para tamu agar tidak menggunakan tungku di dalam area tertutup.

Kapolres Temanggung AKBP Zamrul Aini menjelaskan bahwa peringatan itu telah diberikan sejak korban tiba di lokasi.

“Petugas pengelola juga telah mengingatkan agar tungku tidak dinyalakan di dalam tenda karena berpotensi menyebabkan bahaya kebakaran dan gangguan pernafasan,” terang AKBP Zamrul Aini.

Temuan penting berikutnya berasal dari hasil autopsi dan pemeriksaan toksikologi terhadap para korban.

Kabid Dokkes Polda Jateng Kombes Pol drg. Agung Hadi Wijanarko menyebut seluruh korban menunjukkan tanda-tanda khas keracunan karbon monoksida.

“Pemeriksaan forensik terhadap korban dan sampel darahnya menunjukkan adanya tanda-tanda keracunan karbon monoksida. Kami juga tidak menemukan luka akibat kekerasan di tubuh para korban maupun kandungan zat beracun lain seperti sianida yang dapat menyebabkan kematian,” ungkapnya.

Hasil tersebut kemudian diperkuat melalui simulasi yang dilakukan tim Laboratorium Forensik Polda Jateng di lokasi kejadian.

Kasubbid Kimia Biologi Forensik Bidlabfor Polda Jateng AKBP Ibnu Sutarto menjelaskan bahwa simulasi dilakukan untuk mengetahui sumber paparan gas yang menyebabkan kematian korban.

“Hasil simulasi yang kami lakukan menunjukkan diduga kuat gas karbon monoksida berasal dari pembakaran tungku di dalam tenda. Konsentrasi gas yang dihasilkan dapat mencapai 2000 ppm yang sangat berbahaya bagi manusia,” jelas AKBP Ibnu Sutarto.

Menurutnya, kadar tersebut jauh melampaui batas aman bagi manusia.

Bahkan saat dilakukan simulasi pembakaran di luar tenda, gas karbon monoksida masih berpotensi masuk ke dalam ruang glamping dan melebihi ambang batas aman.

Fakta inilah yang kemudian memperkuat kesimpulan bahwa para korban meninggal akibat menghirup gas karbon monoksida dalam konsentrasi tinggi.

Gas karbon monoksida dikenal sebagai pembunuh senyap karena tidak memiliki warna maupun bau.

Korban sering kali tidak menyadari dirinya sedang menghirup gas beracun tersebut hingga mengalami kehilangan kesadaran.

Dalam kasus tertentu, paparan karbon monoksida dapat menyebabkan tubuh kekurangan oksigen, gagal bernapas, hingga kematian.

Polda Jateng juga menegaskan tidak ditemukan unsur pidana maupun kelalaian dari pihak pengelola wisata.

Menurut hasil penyelidikan, prosedur keselamatan telah dijalankan dan peringatan terkait penggunaan tungku telah disampaikan kepada korban.

Artanto berharap tragedi ini menjadi pelajaran penting bagi masyarakat yang gemar berkemah atau menginap di kawasan wisata alam.

"Peristiwa ini menjadi pengingat bagi kita semua mengenai pentingnya mematuhi prosedur keselamatan saat menggunakan alat pembakaran di area perkemahan maupun ruang tertutup," jelasnya.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak menyalakan tungku arang, kompor portabel, maupun sumber api lainnya di dalam tenda atau ruangan tertutup.

Selain itu, masyarakat juga diminta menghindari kebiasaan tidur di dalam kendaraan dengan mesin menyala dan kaca tertutup rapat.

Menurut Artanto, bahaya karbon monoksida sering kali tidak disadari karena gas tersebut tidak terlihat dan tidak berbau.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak menyalakan tungku arang, kompor portabel, atau sumber pembakaran lainnya di dalam tenda maupun ruang tertutup. Selain itu, hindari beristirahat atau tidur di dalam kendaraan dengan mesin menyala dan kaca tertutup rapat. Gas karbon monoksida tidak berwarna dan tidak berbau, namun dapat menyebabkan tubuh kekurangan oksigen, kehilangan kesadaran, hingga berujung pada kematian,” pungkasnya.

 

Editor : Enih Nurhaeni

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut