get app
inews
Aa Text
Read Next : Tawuran Bersenjata Tajam di Mangkang, 4 Orang Diproses Hukum

Jateng Valley Mangkrak, Begini Perjalanan Menuju Proyek Wisata Rp2 Triliun

Selasa, 11 Agustus 2026 | 13:51 WIB
header img
Jateng Valley Mangkrak, Begini Perjalanan Menuju Proyek Wisata Rp2 Triliun. Foto: iNewsJoglosemar.id/Taufik Budi

SEMARANG, iNewsJoglosemar.id - Jalan menuju kawasan Jateng Valley di Hutan Penggaron, Kelurahan Susukan, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, menyimpan suasana yang berbeda dari bayangan sebuah proyek wisata yang pernah digadang-gadang menjadi salah satu destinasi terbesar di Asia Tenggara.

Perjalanan menuju lokasi justru dimulai dengan suasana yang cukup nyaman. Pepohonan rimbun berdiri di kanan-kiri jalan. Kanopi alami membuat sebagian besar ruas jalan terasa teduh meski matahari sudah cukup terik.

Namun, semakin jauh perjalanan dilakukan, suasananya berubah. Jalan yang dilewati tidak lebar dan sejumlah bagian tampak menanjak serta berkelok. Permukaan jalan juga tidak seluruhnya mulus. Beberapa bagian terlihat kasar dengan hamparan material batu dan kerikil.

Di sisi jalan, lereng tanah dan vegetasi cukup rapat. Kondisi ini membuat perjalanan menuju kawasan Jateng Valley terasa seperti masuk ke kawasan perbukitan yang masih sangat hijau.

Pemandangannya memang menyejukkan mata. Tetapi justru di balik rimbunnya pepohonan itu tersimpan persoalan yang tidak bisa dianggap sepele.

Jalur menuju kawasan tersebut berada di medan berbukit dengan sejumlah sisi jalan berbatasan langsung dengan lereng. Kondisi seperti ini membuat risiko longsor menjadi perhatian, terutama ketika hujan deras mengguyur kawasan Ungaran.

Sejumlah titik juga memperlihatkan jalan yang berkelok dengan sisi yang langsung mengarah ke lereng. Pengendara harus lebih berhati-hati ketika melintas karena ruang jalan relatif terbatas.

Perjalanan terus berlanjut. Rumah-rumah warga masih terlihat di beberapa bagian. Aktivitas kendaraan juga tidak terlalu ramai. Semakin mendekati kawasan Jateng Valley, suasana justru terasa semakin sepi.

Kontrasnya cukup terasa.

Di satu sisi, kawasan ini memiliki modal alam yang luar biasa. Pepohonan besar, udara yang relatif sejuk, kontur perbukitan, dan suasana jauh dari hiruk-pikuk perkotaan.

Di sisi lain, proyek wisata yang pernah digadang-gadang bernilai sekitar Rp2 triliun itu kini justru meninggalkan pertanyaan besar.

Setelah perjalanan melewati jalan yang teduh dan berkelok, akhirnya terlihat papan bertuliskan Jateng Valley.

Namun, papan nama itu justru menjadi semacam penanda ironi.

Nama besar masih terpampang. Kawasan hijau masih ada. Jalan menuju lokasi masih bisa dilalui. Tetapi proyek wisata yang pernah dijanjikan menjadi destinasi besar itu tidak terlihat seperti kawasan wisata yang sedang berkembang.

Pemandangan tersebut mengingatkan kembali pada proyek Jateng Valley yang mulai dibangun setelah groundbreaking pada 15 Agustus 2020. Proyek seluas sekitar 372 hektare itu dirancang dengan berbagai fasilitas wisata, termasuk taman futuristik, hotel hingga konsep Noah's Ark.

Pembangunan kemudian terhenti sejak 2021 dan menyisakan kawasan yang terbengkalai.

Warga sekitar pun pernah berharap proyek tersebut benar-benar berjalan. Aktivitas wisata di kawasan Hutan Penggaron sebelumnya sempat menjadi sumber penghasilan masyarakat. Kegiatan perkemahan, pramuka, SAR, prewedding hingga off road pernah membuat kawasan tersebut ramai.

Kini, perjalanan menuju Jateng Valley justru terasa seperti perjalanan menuju sebuah proyek yang sedang menunggu kepastian.

Yang menarik, akses menuju kawasan ini sebenarnya memiliki daya tarik tersendiri. Jalan yang dinaungi pepohonan membuat perjalanan terasa sejuk. Lanskap perbukitan juga menawarkan suasana alami yang sulit ditemukan di tengah kawasan perkotaan.

Tetapi potensi itu juga datang bersama pekerjaan rumah.

Jika kawasan ini benar-benar akan kembali dikembangkan menjadi destinasi wisata besar, persoalan akses dan keamanan jalan tidak bisa sekadar menjadi catatan tambahan. Kondisi lereng, drainase, kualitas jalan, hingga potensi pergerakan tanah harus menjadi perhatian serius.

Sebab, membangun destinasi wisata di kawasan perbukitan bukan hanya perkara mendirikan bangunan dan membuat wahana. Jalan menuju lokasi adalah bagian pertama yang dirasakan pengunjung.

Dan hari ini, perjalanan menuju Jateng Valley menghadirkan sebuah pertanyaan sederhana: apakah proyek sebesar ini benar-benar akan kembali hidup, atau papan nama Jateng Valley hanya akan terus berdiri sebagai penanda sebuah mimpi wisata yang belum selesai?

 

 

Editor : Enih Nurhaeni

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut