SEMARANG, iNewsJoglosemar.id - Galon kosong menjadi barang penting bagi warga Jabungan, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang. Saat sumber air di rumah tak lagi mengalir, galon-galon itu dibawa untuk mengantre bantuan air bersih.
Nenek Munjariyah salah satunya. Kamis (24/9/2026) pagi, ia datang ke lokasi penyaluran air bersih sejak sekitar pukul 09.00 WIB. Krisis air yang dialaminya bukan persoalan baru. Sudah sekitar lima bulan ia kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari.
“Sejak paling 5 bulan,” kata Munjariyah.
Perempuan yang tinggal bersama suaminya itu mengaku selama tidak ada bantuan, ia harus membeli air. Harga satu galon sekitar Rp5.000. Dalam sehari, kebutuhan air rumah tangganya bisa mencapai empat galon untuk memasak, minum dan mandi.
“Harganya Rp5.000, beli pada yang kadang keliling jualan air. Sehari paling enggak butuh empat galon," ujarnya dalam bahasa Jawa.
Kondisi tersebut membuat air bersih menjadi kebutuhan yang harus dihitung setiap hari. Ketika bantuan datang, warga berbondong-bondong membawa wadah untuk menampung air. Ketika bantuan tidak ada, pilihan mereka terbatas: membeli air atau mencari sumber lain.
Bagi warga Jabungan, persoalan itu berlangsung berulang setiap musim kemarau. Lurah Jabungan M. Chasani mengatakan tiga RW, yakni RW 3, RW 4 dan RW 5, mengalami kekurangan air bersih.
Menurut Chasani, persoalan mulai terasa sejak sekitar Juli 2026 ketika hujan mulai jarang turun. Memasuki Agustus, kondisi semakin parah karena sumur-sumur warga mulai mengering.
“Kalau kekurangan air itu dari bulan Agustus ya, mulai hujan sudah jarang itu, sumur-sumur warga memang sudah mulai pada kering semua,” kata Chasani.
Sekitar 2.000 warga di tiga RW tersebut terdampak kondisi kekeringan. Untuk kebutuhan air bersih, masyarakat kini mengandalkan dropping air dari Pemerintah Kota Semarang dan bantuan berbagai pihak.
Persoalan tidak berhenti pada sumur yang mengering. Jaringan PDAM juga belum masuk ke RW 4 dan RW 5. Selama ini, sumur air tanah menjadi tumpuan utama warga.
Bahkan ketika air bersih sulit diperoleh, sebagian warga menggunakan air sungai untuk kebutuhan mandi dan mencuci. Chasani mengatakan bantuan tangki menjadi solusi sementara untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.
“Kalau di RW 4 dan RW 5 memang PDAM jaringannya belum masuk,” ujarnya.
Upaya menghadirkan sumber air permanen sebenarnya sudah dilakukan. Sejumlah titik sumur artetis pernah dibangun, tetapi saat musim kemarau sumber air tersebut ikut mengering.
Di tengah kondisi itu, Polda Jawa Tengah bersama wartawan mitra Polda Jateng kembali menyalurkan bantuan air bersih ke RW 4 Jabungan, Kamis (24/9/2026).
Sebanyak dua tangki, masing-masing berkapasitas 8.000 liter, atau total 16.000 liter air bersih, disalurkan untuk 135 kepala keluarga. Bantuan dibagikan kepada warga RT 1, RT 2 dan RT 3 RW 4.
Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol Yuliyanto mengatakan bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan air.
“Ya, untuk hari ini kita bersama-sama teman-teman media yang biasa melakukan liputan di Polda Jawa Tengah, kita nge-drop dua tangki air untuk masyarakat RW 4 Kelurahan Jabungan,” kata Yuliyanto.
Bantuan itu hanya menjadi bagian dari penanganan jangka pendek. Yuliyanto menyebut jajaran Polda Jateng, mulai Polda, Polres hingga Polsek, telah mendistribusikan sekitar 5.700 meter kubik air bersih kepada masyarakat di berbagai wilayah Jawa Tengah.
Selain dropping air, Polda Jateng juga mencatat sedikitnya 30 titik sumur telah dibuat selama 2026 sebagai bagian dari upaya menghadirkan sumber air baru.
Untuk Jabungan sendiri, Ditreskrimsus Polda Jateng tengah mengerjakan sumur bor dengan kedalaman sekitar 60 meter. Sumur tersebut diharapkan dapat menjadi sumber air yang lebih berkelanjutan bagi masyarakat.
Editor : Enih Nurhaeni
Artikel Terkait
