SEMARANG, iNewsJoglosemar.id – Menjadi pengelola zakat (amil) bukan sekadar soal niat beribadah. Di balik tuntutan pelayanan kepada masyarakat, kesejahteraan dan masa depan para amil rupanya masih menyisakan persoalan mendasar. Hal ini menjadi sorotan tajam dalam gelaran Pelatihan dan Sertifikasi Amil BNSP LAZISMU 2026 di Hotel Candi Indah, Semarang, Senin (2/11/2026).
Sebanyak 121 amil dari berbagai wilayah di Indonesia mengikuti pelatihan empat hari yang mengusung tema Amil Kompeten, Lembaga Unggul, Zakat Berdampak ini. Namun, di tengah upaya peningkatan kapasitas tersebut, Ketua Badan Pengurus LAZISMU Pusat, Ahmad Imam Mujaddid Rais, menyoroti dua Pekerjaan Rumah (PR) besar yang belum tuntas: kesejahteraan dan jenjang karier.
Hingga Juni 2026, tercatat baru sekitar 216 amil LAZISMU yang memiliki sertifikasi. Dengan tambahan 121 peserta saat ini, angkanya memang bertambah. Namun, Ahmad Imam menegaskan bahwa kompetensi saja tidak cukup jika para amil tidak sejahtera secara finansial.
"Ini jumlah yang masih sedikit kalau kita bandingkan dengan jumlah amil keseluruhan, tapi ini menjadi modal yang berharga. Kami mendorong ini terus dilakukan secara berkelanjutan," ujar Ahmad Imam di sela-sela kegiatan.
Ia pun mengapresiasi langkah LAZISMU Jawa Tengah yang telah berani menetapkan standar kesejahteraan minimal setara dengan Upah Minimum Regional (UMR). Menurutnya, standar ini harus menjadi contoh bagi wilayah lain agar para amil tidak lagi bekerja dalam ketidakpastian.
"Paling tidak minimal UMR. Ini kita harus berani untuk mengatakan seperti itu, supaya amil sebelum berjuang membela mustahik, dia juga sejahtera dengan dirinya sendiri. Sehingga dia bisa fokus dalam menjalankan tugas-tugasnya," tegasnya.
Bukan hanya soal upah, Ahmad Imam juga menyoroti absennya desain jenjang karir (career path) yang jelas bagi para amil. Selama ini, banyak amil yang tidak mengetahui batas waktu dan tahapan untuk naik ke posisi yang lebih tinggi, mulai dari staf, manager, hingga direktur.
"Amil ini mungkin beberapa waktu lalu belum terdesain secara baik. Habis staf, jadi manajer atau direktur seperti apa? Berapa tahun seseorang bisa menjadi amil sehingga dia menggapai puncak posisi? Ini penting untuk kita sampaikan agar mereka ada satu fokus, ada ketenangan, sehingga dia tahu habis dari sini dia ke mana," jelasnya.
Ketua Badan Pengurus LAZISMU Jawa Tengah, Dwi Swasana Ramadhan, S.E., M.SEI., AK., CTA, ACPA., CertDA., menegaskan bahwa pelatihan ini bukan ajang seremonial. Para peserta digembleng dengan materi yang sangat teknis dan aplikatif, mulai dari pemahaman fikih zakat, manajemen hubungan dengan donatur, hingga laporan keuangan berbasis PSAK 409.
"Di materi sekolah amil ini kita akan bicara penghimpunan atau input dari LAZISMU itu sendiri. Bagaimana kita bisa menjadi lembaga zakat terpercaya yang agresif, yang kemudian menjadi pilihan masyarakat karena keterpercayaannya tersebut," jelas Dwi.
Selain tata kelola keuangan yang harus terintegrasi dan real-time, Dwi menyebut bahwa SDM yang kompeten harus memiliki kepercayaan diri. Ujungnya, output dari program ini harus bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.
"Kita juga nanti bicara output bagaimana programnya dapat baik. Harapannya seperti yang disampaikan Pak Ketua LAZISMU Pusat, seberapa sih peran Muhammadiyah melalui LAZISMU ini bisa mengentaskan kemiskinan di Indonesia?" tegas Dwi.
Upaya mencetak amil yang profesional tidak dilakukan secara sembarangan. Kegiatan yang bekerja sama dengan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Muhammadiyah ini menghadirkan asesor kompetensi bersertifikat BNSP. Selama tiga hari, peserta dibekali materi teknis dan manajerial. Pada hari keempat, mereka harus menjalani asesmen ketat.
Penilaian tidak hanya berdasarkan uji tulis, tetapi juga verifikasi portofolio, wawancara kompetensi, observasi demonstrasi, hingga studi kasus. Asesmen ini mencakup dua klaster utama, yaitu Pelaksanaan Pengumpulan Zakat serta Pelaksanaan Pendistribusian dan Pendayagunaan Zakat.
Peserta yang dinyatakan kompeten akan menerima sertifikat resmi. Ahmad Imam berharap, dengan sertifikasi ini, tidak ada lagi keraguan di tengah masyarakat untuk menyalurkan zakatnya. Amil-amil LAZISMU dinilai telah siap menyambut para muzaki dan melayani para mustahik dengan kapasitas yang mumpuni.
"Harapannya tentu berbagai problem-problem sosial yang kita hadapi bisa pelan-pelan kita atasi," pungkasnya.
Editor : Enih Nurhaeni
Artikel Terkait
