Sumpah Bumi di Candi Gedong Songo, Warga Bentangkan Bendera 1 Km dan Tolak Geothermal

Taufik Budi
Sumpah Bumi di Candi Gedong Songo, Warga Bentangkan Bendera 1 Km dan Tolak Geothermal. Foto: Ist

SEMARANG, iNewsJoglosemar.id – Kawasan Candi Gedong Songo, Kabupaten Semarang, Rabu (28/10/2026), menjadi saksi aksi teatrikal di tengah udara dingin dan kabut. Ratusan warga, seniman, dan masyarakat adat bahu-membahu menggelar upacara Sumpah Bumi sekaligus memeringati Hari Sumpah Pemuda. Namun, di balik khidmatnya upacara, tersimpan pesan lantang, penolakan terhadap proyek geothermal di Gunung Ungaran dan Telomoyo.

Perjalanan menuju lokasi upacara bukan perkara mudah. Titik utama acara berada di pelataran Candi 4 Gedong Songo. Untuk sampai ke sana, para peserta harus berjalan kaki mendaki jalan menanjak, melewati rute yang melintasi Candi 1, Candi 2, dan Candi 3. Udara dingin dan medan yang cukup menguras tenaga tidak menyurutkan langkah mereka.

Sesampainya di Candi 4, suasana berubah menjadi sangat megah. Ratusan warga yang terlibat dalam kegiatan ini secara gotong royong membentangkan bendera merah putih raksasa. Ukurannya luar biasa, yakni sepanjang 1 kilometer dengan lebar 75 sentimeter.

Bendera raksasa tersebut dibentangkan secara estafet, mengelilingi area Candi 4 hingga menutupi lapangan pelataran. Selain bendera merah putih sepanjang 1 kilometer, warga juga membawa serta mengibarkan Bendera Merah Putih berukuran raksasa lainnya, yaitu 80x80 meter persegi, yang menambah kesan heroik dan sakral pada upacara tersebut.

Sesepuh upacara, Sang Edo, menjelaskan bahwa pemilihan Candi Gedong Songo sebagai lokasi memiliki makna filosofis yang dalam. Menurutnya, peringatan Sumpah Pemuda ke-98 ini harus menjadi momentum bagi generasi muda untuk kembali mengenal dan melestarikan alam serta cagar budaya peninggalan leluhur.

"Supaya memberikan contoh wawasan, pengetahuan terkait dengan pelestarian alam, cagar budaya termasuk peninggalan-peninggalan para leluhur kepada generasi yang akan datang," ujar Sang Edo.

Dalam prosesinya, upacara ini juga diisi dengan pembacaan Sumpah Bumi oleh Ki Rengga. Sang Edo memaparkan bahwa Sumpah Bumi adalah wujud permohonan dan penghormatan kepada Bumi Pertiwi yang diyakini memiliki kehidupan. Bumi yang dijaga dengan baik akan memberikan manfaat luar biasa bagi keberlangsungan hidup warga sekitar.

Namun, aksi budaya ini tidak lepas dari konteks sosial yang sedang terjadi. Sang Edo menegaskan bahwa pelestarian alam saat ini dihadapkan pada tantangan besar, salah satunya adalah kebijakan pembangunan yang berpotensi merusak lingkungan.

"Kita memberikan pesan supaya pemerintah memberikan ruang kepada kita untuk bisa melestarikan alam. Sehingga seperti proyek geothermal bisa dipertimbangkan kembali, mencari solusi yang lebih baik dan aman untuk masa depan," tegasnya.

Aspirasi penolakan geothermal ini pun mendapat tanggapan dari Ketua DPRD Kabupaten Semarang, Bondan Marutohening. Ia menegaskan bahwa pihaknya akan menghargai setiap aspirasi yang disampaikan oleh masyarakat, selama dilakukan dengan cara dan etika yang baik.

"Kalau aspirasi kami juga menghargai aspirasi dari semua elemen masyarakat. Selama aspirasi itu disampaikan dengan etika dan cara yang baik, kami menghargai itu karena itu satu bentuk penyampaian aspirasi dari masyarakat," ujar Bondan.

 

 

Editor : Enih Nurhaeni

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network