SEMARANG, iNewsJoglosemar.com – Isu mengenai pusat data kecerdasan buatan (AI Data Center) yang disebut-sebut menyedot air bersih dalam jumlah besar baru-baru ini mencuat ke publik. Menanggapi hal tersebut, pihak penyedia layanan internet Biznet buka suara. Mereka memastikan bahwa fasilitas Biznet AI Center yang berada di Bali tidak menggunakan air secara masif, melainkan menerapkan teknologi pendingin cairan tertutup.
Penjelasan ini disampaikan langsung oleh ASM Territory I Biznet, Ageng Prasetya, di sela-sela perayaan 26 tahun Biznet di Semarang, Rabu (21/10/2026). Menurut Ageng, pemilihan Bali sebagai lokasi AI-Ready Data Center pertama Biznet bukan tanpa alasan, melainkan karena masifnya tren Work From Bali (WFB) dan ekspansi jaringan di sana.
"Untuk yang pertama adalah Bali ini merupakan salah satu fokus untuk pengembangan layanan ekspansi jaringan kami. Lebih dari 200.000 home pass tersebar di 268 kelurahan," ujar Ageng.
Terkait isu penggunaan air bersih yang ramai diperbincangkan, Ageng memberikan analogi sederhana agar mudah dipahami masyarakat. Ia menegaskan bahwa sistem pendingin di AI Center Biznet menggunakan teknologi Direct Liquid Cooling (DLC) yang bersifat sirkulasi tertutup.
"Jadi di tempat kami ini sudah menggunakan teknologi DLC yang mana lebih ramah lingkungan serta efisien untuk listriknya. Jadi bukan berarti air diambil terus dibuang, tidak," jelasnya.
Ageng menganalogikan sistem tersebut layaknya radiator pada kendaraan bermotor atau mobil. Cairan pendingin yang digunakan akan terus berputar di dalam sistem untuk menyerap panas dari server AI, kemudian didinginkan kembali, dan dialirkan lagi tanpa ada yang terbuang ke lingkungan.
"Kondisinya itu hampir mirip dengan radiator mobil. Jadi penggunaannya muter. Liquid yang digunakan atau pendingin yang digunakan itu tidak terbuang. Jadi diputer terus seperti di mobil ataupun di motor," tambahnya.
Selain membahas isu AI Center, dalam perayaan usia ke-26 ini, Biznet menegaskan komitmennya untuk terus mengikis kesenjangan (gap) digital di Indonesia, khususnya di Jawa Tengah. Ageng menyadari masih banyak area blank spot atau wilayah yang belum tercover internet, terutama di daerah pinggiran dan terpencil.
"Kita ingin memperkecil, ingin mengikis gap digital yang ada di Indonesia. Jadi, untuk semua masyarakat, untuk semua calon pelanggan yang mungkin saat ini di daerah-daerah yang belum memiliki akses internet, harapannya kami bisa memberikan akses internet kepada mereka," harap Ageng.
Upaya ekspansi ini dibarengi dengan perluasan jaringan kabel bawah laut dan program tanggung jawab sosial (CSR). Di tahun 2026, Biznet memberikan layanan internet gratis bagi lebih dari 300 Kepala Keluarga (KK) di sekitar area Marine POP (titik pendaratan kabel bawah laut), termasuk di Jembrana (Bali), Serang, Karawang, dan Gresik.
Khusus untuk wilayah Semarang, Regional Manager Jateng 1 Biznet, Risna Prayuda, memaparkan capaian jaringan. Sejak 2012, Biznet telah membentang kabel jaringan (home pass) di lebih dari 71.000 rumah di Kota Semarang.
"Dari 2012 kita secara home pass, rumah yang dilalui oleh kabelnya, itu udah ada lebih dari 71.000 home pass untuk Semarang. Kemudian kita sudah ada di 147 kelurahan," jelas Risna.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 13.700 pelanggan telah berlangganan layanan internet rumahan Biznet. Area dengan pelanggan terbanyak berada di kawasan Semarang Atas (Tembalang) dan Semarang Bawah. Ke depan, Biznet akan terus melakukan penggelaran infrastruktur untuk masuk ke perumahan-perumahan baru, seperti di kawasan Bukit Semarang Baru (BSB).
Editor : Enih Nurhaeni
Artikel Terkait
