Bengkel di Sekolah Ini Dikerjakan Siswa, tapi Warga Kendal Sudah Percaya

Taufik Budi
Bengkel di Sekolah Ini Dikerjakan Siswa, tapi Warga Kendal Sudah Percaya. Foto: iNewsJoglosemar.id/Taufik Budi

KENDAL, iNewsJoglosemar.id — Ada kalimat yang sering diucapkan dengan nada setengah bercanda di kalangan pemilik motor: "Jangan servis di bengkel SMK, nanti motormu jadi bahan praktik." Kalimat itu bukan sekadar lelucon. Ia adalah cerminan dari kepercayaan yang belum sepenuhnya diberikan masyarakat kepada bengkel yang dikelola sekolah.

Bayangkan diri Anda sebagai pemilik motor. Anda butuh ganti oli, servis CVT, atau memperbaiki rem yang blong. Anda melihat sebuah bengkel dengan spanduk yang rapi, peralatan yang lengkap, dan mekanik yang berseragam. Tapi di balik seragam itu, ada anak-anak berusia 16 tahun yang sedang belajar. Apakah Anda akan menyerahkan kendaraan kesayangan Anda kepada mereka?

Pertanyaan itu wajar. Dan itulah yang membuat bengkel SMK sering sepi. Tapi di Kabupaten Kendal, ada satu bengkel yang berhasil membalikkan anggapan itu. Mekaniknya masih siswa aktif. Seragamnya masih sekolah. Tapi pelanggannya datang dari luar. Bukan dari kalangan sekolah, melainkan warga sekitar, instansi, sampai panti asuhan.

Bukan hanya datang sekali. Mereka kembali. Dan kembali lagi.

Bengkel itu adalah Enduro Home Service (EHS) Karya Speed di SMK Harapan Mulya, Kabupaten Kendal. Sebuah teaching factory yang dikelola bersama Pertamina Lubricants sejak 2021.

Sekolah dan Industri Bertemu

Kerja sama SMK Harapan Mulya dengan Pertamina dimulai secara daring pada 2021. Saat itu, pandemi membatasi hampir semua aktivitas. Sekolah-sekolah ditutup. Pembelajaran dilakukan dari rumah. Tapi di tengah keterbatasan itu, sebuah benih ditanam.

Baru pada 2022, bengkel ini benar-benar dibuka dan mulai beroperasi. Bukan tanpa alasan butuh waktu setahun. Ada banyak hal yang harus disiapkan mulai sarana prasarana, pelatihan, sistem pengelolaan, sampai branding.

"Kami dari SMK Harapan Mulya bekerja sama dengan Pertamina mulai launching waktu itu daring di tahun 2021. Kemudian di tahun 2022 kami di-sounding lagi untuk branding bengkel," ujar Rikha Imaniarti, S.Pd., Kepala SMK Harapan Mulya Kendal, Rabu (16/9/2026).

Keputusan pertama yang diambil adalah menempatkan bengkel di luar area sekolah. Ini bukan keputusan sepele. Membangun bengkel di dalam sekolah jauh lebih mudah dari sisi administratif dan keamanan. Tapi, SMK Harapan Mulya memilih jalan yang lebih sulit.

Alasannya sederhana yakni masyarakat akan sulit percaya kalau harus menyervis motor di dalam lingkungan sekolah.

"Kalau di dalam area sekolah, tentunya ini akan agak kesusahan memberikan kepercayaan itu. Kalau kita buka di sini (luar area sekolah), ini sudah profesional," tambah Rikha.

Keputusan ini terbukti tepat. Dengan bengkel yang berdiri sendiri di lokasi yang mudah diakses, EHS Karya Speed tidak lagi terlihat sebagai "bengkel sekolah". Ia terlihat sebagai bengkel sungguhan. Yang kebetulan mekaniknya masih siswa.

Siswa Aktif, Bukan Alumni

Salah satu hal yang membedakan EHS Karya Speed dari banyak bengkel sekolah lain adalah mekaniknya. Mereka merupakan siswa yang masih aktif belajar, bukan alumni.

Ini penting. Banyak bengkel sekolah yang akhirnya mengandalkan alumni karena siswa aktif dianggap belum kompeten. Tapi EHS Karya Speed memilih pendekatan berbeda. Siswa aktif didampingi langsung oleh guru dan pembimbing. Mereka tidak dilepas sendirian, tapi juga tidak selalu berada di bawah bayang-bayang.

"Anak-anak itu secara SOP mengurusi problem yang ada, kemudian cara pengerjaannya dan sebagainya itu dikerjakan oleh siswa-siswi yang masih aktif, bukan alumni, yang masih aktif dengan didampingi oleh Bapak Ibu," jelas Rikha.

Agus Puryanto, S.Pd., Kepala Jurusan Teknik Bisnis Sepeda Motor sekaligus Kepala Bengkel, menjelaskan formulanya, yaitu 30% teori, 70% praktik. Siswa kelas X yang masih baru justru dipacu lebih cepat agar bisa mengimbangi siswa kelas 12.

"Kita tahu persis bahwa bengkel SMK itu rata-rata kurang dipercaya oleh masyarakat. Ini kita harus ubah mindset," kata Agus.

Pendekatan ini bukan tanpa risiko. Siswa kelas X yang baru masuk memang belum punya skill cukup. Tapi dengan porsi praktik yang besar, mereka belajar lebih cepat. Dalam hitungan bulan, mereka sudah bisa menangani pekerjaan dasar.

Nabris, siswa berusia 16 tahun, adalah contohnya. Pelajar kelas X itu mengaku sudah bisa melakukan banyak hal. Mulai dari menyeting karburator, ganti komstir, ganti ban, ganti kampas, ganti oli mesin, sampai mengatasi rembesan.

"Keuntungannya di sini lebih berpengalaman. Sudah tahu semua komponen motor, dan lebih tahu apa saja jenis kerusakannya," ujarnya.

Tapi jangan salah paham. Ini bukan berarti mereka mengabaikan pelajaran. Siswa yang terlibat di bengkel tetap mengikuti kurikulum. Hanya saja, porsi praktiknya jauh lebih besar. Ada yang bahkan hampir sepenuhnya berada di bengkel, mengganti seragam sekolah dengan wearpack.

Pelanggan 5 Sampai 10 Per Hari, Omzet Ratusan Juta

Kepercayaan itu akhirnya datang. Dalam sehari, EHS bisa melayani 5 hingga 10 pelanggan. Servisnya beragam, dari ganti oli, servis CVT, ganti kampas rem, sampai perbaikan rembesan.

Tidak hanya menunggu pelanggan datang. Tim EHS Karya Speed juga aktif mengajukan proposal servis kunjung ke instansi seperti kecamatan dan puskesmas. Dalam sebulan, bisa 2 hingga 3 kali servis kunjung. Mereka datang dengan surat resmi, membuka layanan servis atau ganti oli di lokasi yang dituju.

"Sering sih (servis kunjung). Sekalian jalan-jalan keluar (sekolah)," kata Nabris, yang pernah ikut servis ke panti asuhan.

Dalam satu kunjungan, biasanya 5 sampai 7 siswa yang diterjunkan. Mereka melayani ganti oli, pengecekan komstir, rem, dan kelistrikan.

Hasilnya? Omzet bengkel ini disebut mencapai ratusan juta rupiah per tahun. Semuanya dikelola mandiri, terpisah dari keuangan sekolah.

"Omzetnya sejak 2022 sampai sekarang sudah lebih dari Rp600 juta. (Uangnya untuk) pembelian alat-alat bengkel, bahkan sekecil lampu atau kebutuhan apa pun yang ada di EHS Karya Speed, itu sudah dikelola secara mandiri oleh EHS sendiri," ujar Rikha.

Ini bukan hal kecil. Banyak bengkel sekolah yang bergantung pada dana bantuan. Tapi EHS Karya Speed membuktikan bahwa bengkel sekolah bisa mandiri secara finansial.

Pembagiannya pun jelas, sebasar 30% untuk apresiasi siswa, dan 70% untuk pengembangan bengkel. Siswa yang terlibat menerima insentif berdasarkan kompetensi dan keaktifan mereka.

"Tidak merata. Tergantung kualitas anak dan kompetensi anak. Kalau merata juga tidak adil," kata Agus.

Insentif yang diterima siswa tidak selalu berupa uang tunai. Sebagian digunakan untuk membeli alat-alat bengkel. Nabris, misalnya, menggunakan insentifnya untuk membeli kunci-kunci. Alat itu dipakai untuk melayani tetangga di rumah.

"Bisa buat beli alat-alat bengkel. Bisa banyak dapat alat-alat kunci-kunci gitu," ujarnya.

Siswa Punya Pelanggan Sendiri

Ada satu hal yang jarang ditemukan di bengkel sekolah yakni siswa yang sudah punya pelanggan sendiri di rumah.

Nabris adalah salah satunya. Di rumah, ia sering melayani tetangga yang motornya bermasalah. "Saya melayani tetangga dulu gitu. Biasanya kalau sudah ada keluhan saya yang servis," katanya.

Ini bukan sekadar praktik tambahan. Melainkan keahlian yang dipelajari di bengkel sekolah sudah cukup untuk digunakan di dunia nyata. Dan lebih dari itu, ini adalah awal dari jiwa wirausaha.

Hal serupa disampaikan Muhammad Rizal, siswa kelas XII. Harapannya sederhana. "Bisa buka bengkel di depan rumah."

Agus menyebut, dari satu angkatan, hampir separuh lulusan membuka bengkel sendiri. "Selagi dia lulus dari sini sudah punya alat, harapan kami langsung buka usaha bengkelnya sendiri."

Ini adalah angka yang luar biasa. Di tengah pasar kerja yang semakin ketat, lulusan SMK ini tidak hanya mencari pekerjaan. Mereka menciptakan pekerjaan.

53 SMK, dan Terus Bertambah

Program Enduro Home Service bukan hanya di Kendal. Pertamina Lubricants telah membina 53 SMK di seluruh Indonesia, dari barat sampai timur.

"Kriterianya pertama, harus ada jurusan teknik bisnis sepeda motor. Kemudian sudah punya kurikulum bengkel TEFA, dan lokasinya tidak di dalam sekolah, harus kelihatan dengan akses umum," jelas Rika Gresia Wahyudi, Corporate Secretary Pertamina Lubricants.

Kriteria ini bukan tanpa alasan. Tujuan program ini bukan hanya menyediakan tempat praktik. Tapi juga melatih siswa menghadapi pelanggan sungguhan.

"Bukan hanya sebagai tempat praktik anak-anak SMK, tapi untuk dilatih mereka kewirausahaannya sehingga harus memang menghadapi real customer," tambah Rika.

Pendampingan yang diberikan meliputi bantuan in kind berupa produk pelumas Enduro, sarana prasarana bengkel, branding, hingga pendampingan minimal 3 tahun. Ada juga pelatihan kewirausahaan seperti pembukuan sederhana dan sistem inventori, serta pelatihan technical skill.

Untuk alumni yang ingin membuka bengkel sendiri, ada program Enduro Student Program dengan skema serupa. Modal produk, sarana prasarana, toolkit, branding, dan pendampingan minimal 3 tahun.

"Banyak juga yang ikut program itu (Enduro Student Program)," kata Rika ketika ditanya berapa alumni yang mengikuti program ini.

Roda Empat Jadi Target Berikutnya

Ke depan, EHS berpotensi berkembang ke kendaraan roda empat melalui program Fastron Home Service. SMK Harapan Mulia disebut berpeluang menjadi pilot project-nya.

Rencananya, bengkel roda empat akan dibuka di sebelah bengkel yang sudah ada, tetap dengan konsep teaching factory yang bisa diakses publik.

"Ini linear karena program dari Kementerian Pendidikan saat ini mengedepankan teaching factory di SMK," kata Rikha.

Tapi ini bukan tanpa tantangan. Membuka bengkel roda empat membutuhkan investasi yang lebih besar, peralatan yang lebih canggih, dan keahlian yang berbeda. Tapi jika ada sekolah yang bisa melakukannya, EHS sudah membuktikan bahwa mereka mampu.

Ini juga pelajaran bagi dunia pendidikan vokasi di Indonesia. Terlalu sering, SMK dianggap sebagai pilihan kedua. Terlalu sering, lulusan SMK dianggap belum siap kerja. Tapi di Kendal, narasi itu dibalik.

Siswa SMK di sini tidak hanya belajar. Mereka bekerja. Mereka menghasilkan. Mereka dipercaya.

Dan bagi siswa seperti Nabris dan Rizal, bengkel ini bukan sekadar tempat praktik. Ini adalah ruang pertama di mana mereka belajar bahwa keahlian bisa menghasilkan, dan bahwa kerja keras punya nilainya sendiri.

 

 

Editor : Enih Nurhaeni

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network