get app
inews
Aa Text
Read Next : 288 Napi Lapas Ambarawa Dapat Remisi, 8 Orang Langsung Hirup Udara Bebas

Warga Pancuran Salatiga Gelar Upacara di Pasar, Lawan Stigma Kampung Preman

Senin, 17 Agustus 2026 | 18:47 WIB
header img
Warga Pancuran Salatiga Gelar Upacara di Pasar, Lawan Stigma Kampung Preman. Foto: Ist

 

SALATIGA, iNewsJoglosemar.id – Cap sebagai “kampung preman” masih melekat pada Kampung Pancuran, Kota Salatiga. Namun, warga setempat terus berupaya membuang stigma tersebut dengan berbagai kegiatan positif.

Salah satunya terlihat saat ratusan warga dan pedagang mengikuti upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di halaman parkir Pasar Raya II Salatiga, Senin (17/8/2026).

Mengenakan batik, warga dari berbagai generasi berdiri rapi sesuai RT masing-masing di RW 4 Pancuran, Kelurahan Kutowinangun Lor, Kecamatan Tingkir.

Bukan orang berseragam yang menjadi petugas utama. Para pemuda Pancuran dipercaya mengibarkan Merah Putih dan menjalankan berbagai tugas dalam upacara.

Sebelumnya, mereka mendapat pelatihan singkat dari anggota TNI dan Polri.

Upacara yang dimulai pukul 07.00 WIB tersebut dipimpin Ketua DPRD Kota Salatiga Dance Ishak Palit. Sejumlah anggota DPRD turut hadir bersama warga dan pedagang pasar.

Ketua RW 4 Pancuran, Edy Prasetyo, mengatakan upacara kemerdekaan di kawasan Pasar Raya II sudah digelar rutin sejak 2016.

Namun, bagi warga Pancuran, kegiatan tersebut bukan sekadar seremoni setiap 17 Agustus.

Ada pesan yang ingin ditegaskan: Pancuran sedang berubah.

“Kami berharap dengan mengadakan upacara peringatan Hari Kemerdekaan semakin menanamkan jiwa nasionalisme di antara warga,” ujar Edy.

Edy tak menampik citra Pancuran sebagai kampung preman masih menjadi stigma yang melekat di tengah masyarakat Salatiga.

Karena itu, warga memilih melawannya bukan dengan kata-kata, tetapi melalui perubahan nyata di lingkungan kampung.

“Dengan menanamkan nasionalisme tersebut bisa mengikis stigma yang melekat terhadap Pancuran,” katanya.

Upaya tersebut sebenarnya bukan hal baru. Para ketua RW terdahulu bersama para senior dan sesepuh kampung telah lebih dulu mendorong warga untuk berbenah.

Kini, perubahan itu mulai terlihat dari berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat.

Warga membangun sentra urban farming di atas sungai yang mengalir di tengah Kampung Pancuran. Mereka juga terus mendorong drumblek sebagai kesenian khas Kota Salatiga yang berkembang dari kawasan tersebut.

Bagi Edy, kekuatan terbesar Pancuran bukan fasilitas maupun sumber daya yang besar, melainkan kekompakan warganya.

“Memang kekuatan kami ada di kekompakan dan soliditas warga,” ujarnya.

Menurutnya, perubahan Pancuran juga terbantu oleh berbagai program pemerintah, kementerian, hingga pendampingan akademisi yang memberi ruang bagi warga untuk berkembang.

Di tengah upaya mengubah wajah kampung, upacara kemerdekaan menjadi simbol bahwa nasionalisme juga tumbuh dari lingkungan masyarakat.

Ketua DPRD Kota Salatiga Dance Ishak Palit mengatakan kemerdekaan yang diwariskan para pahlawan harus dijaga oleh seluruh masyarakat.

“Karena sudah diwarisi kemerdekaan, maka kita harus merawatnya,” kata Dance.

Dance juga mengapresiasi jasa Frans dan Alex Mendur yang mengabadikan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Menurutnya, dokumentasi tersebut membuat generasi sekarang dapat menyaksikan kembali momen bersejarah ketika Proklamasi dibacakan.

Bagi warga Pancuran, Merah Putih yang berkibar di halaman Pasar Raya II bukan hanya simbol peringatan kemerdekaan.

Di balik upacara tersebut, ada pesan yang jauh lebih besar: kampung yang dulu dicap sebagai kampung preman kini sedang berjuang menunjukkan wajah yang berbeda—lebih kompak, produktif, dan berdaya.

 

 

 

Editor : Enih Nurhaeni

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut