Warok Cilik Perempuan hingga Rodat, 17 Desa Tumpah Ruah di Gelar Budaya Pabelan
SEMARANG, iNewsJoglosemar.id – Terik matahari menyengat di Lapangan Desa Sukoharjo, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang, Sabtu (10/10/2026). Debu beterbangan, keringat mengucur. Namun di atas karpet merah yang digelar seadanya, para penari tetap menghentak.
Mereka adalah Warok Perempuan Cilik yang ambil bagian dalam Gelar Budaya dan UMKM Expo 2026 tingkat Kecamatan Pabelan. Berbeda dari Warok pada umumnya yang identik dengan sosok laki-laki dewasa, kali ini pecut Warok dipegang oleh anak-anak perempuan cilik dengan kostum loreng dan udeng berbulu putih.
Tampil garang di tengah terik. Ratusan pasang mata menyaksikan bersama lensa kamera ponsel yang mengarah ke tengah lapangan.
Selain itu, ada pula kesenian Rodat. Kesenian religi yang memadukan silat dan sholawat itu tampil dengan kostum putih, jarik batik, dan selempang merah putih. Ibu-ibu berhijab dan bapak-bapak berudeng warna-warni tampil kompak dengan gerakan tegas.
Mereka membawa properti kipas, menampilkan berbagai gerakan termasuk mengangkat kaki dan memebentuk formasi lingkaran. Sementara di atas panggung, sejumlah orangtua memainkan alat musik rebana.
Mereka mengenakan batik dan peci, duduk rapi dengan mikrofon di depan. Alunan rebana mengiringi penampilan Rodat, kesenian religi yang memadukan silat dan sholawat.

Kepala Seksi Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (Kasi PPMD) Kecamatan Pabelan yang juga Pj Kepala Desa Sukoharjo, Deni Erlin Herawati, S.E., M.M., mengatakan kegiatan ini digelar untuk mendukung tupoksinya dalam pembinaan kebudayaan dan UMKM.
"Ini ada 17 UMKM dari 17 desa dan juga UMKM lokal," ujar perempuan berparas ayu itu.
Untuk gelar budaya, setiap desa mengirimkan satu kontingen kesenian. Variannya beragam. Mulai dari Rodat, tari kreasi, tari Gambyong, hingga Reog.
Deni menyebut, kegiatan ini dilaksanakan satu tahun sekali. Tahun 2024 di Desa Sumberejo, tahun 2025 di Desa Semowo, dan tahun 2026 ini di Desa Sukoharjo. Skupnya tingkat Kecamatan Pabelan.
"Ini memang roadshow dari desa ke desa. Kami inginnya anjangsana ke desa biar semua juga pernah merasakan bahwa desanya digunakan sebagai tempat gelar budaya dan juga expo UMKM," katanya.
Selama menjadi Kasi PPMD di Kecamatan Pabelan, Deni mengaku sudah tiga kali melaksanakan kegiatan ini. Ia berharap tradisi ini tetap berlanjut tahun depan.
"Insyaallah selama tidak ada refocussing anggaran dan juga pengurangan-pengurangan dan efisiensi dari pemerintah, maka insyaallah ini akan tetap kami laksanakan," ujarnya.

Soal pembinaan, Deni mengatakan pihaknya tidak hanya menggelar acara seremonial. Pihaknya juga melakukan sosialisasi dan berkolaborasi dengan pamong budaya.
"Seperti ketika ada kegiatan pawai pembangunan di kabupaten, ini kami juga tampilkan dari masing-masing desa. Mana yang kemungkinan bisa ditampilkan di tingkat kabupaten," katanya.
"Itu salah satu cara kami untuk tetap bagaimana melestarikan budaya yang ada di desa-desa ini," imbuhnya.
Potensi budaya di Pabelan sendiri, menurut Deni, sangat melimpah. Hampir semua desa bahkan setiap dusun memiliki kelompok seni budaya masing-masing. Baik yang sudah bisa main di luar desa maupun yang masih tampil di internal.
Hal yang sama juga terjadi pada sektor UMKM. Deni menjelaskan, pihaknya berkolaborasi dengan Pokja 2 Tim Penggerak PKK Desa.
"Setiap desa ini banyak sekali potensi-potensi UMKM. Baik dari makanan, kemudian kerajinan, kemudian pengolahan, dan lain sebagainya," ujarnya.
Agar mengundang banyak penonton, kegiatan sengaja digelar di akhir pekan.
"Untuk menarik minat dari para penonton sehingga kami laksanakan di akhir pekan, hari Sabtu. Karena hari Sabtu itu nanti bisa sampai dengan malam Minggu, itu sudah tidak ada kegiatan untuk sekolah esok harinya," katanya.
Rangkaian acara dimulai sejak pukul 07.00 WIB dengan senam bersama. Pembukaan yang sedianya dihadiri Bupati Semarang, akhirnya dibuka oleh Anggota Komisi A DPRD Kabupaten Semarang, Agus Budiyono.
"Kemudian dilanjutkan penampilan dan performance dari masing-masing desa. Ini prediksi kami jam 23.00 malam baru selesai," ujar Deni.
Editor: Enih Nurhaeni