get app
inews
Aa Text
Read Next : Curanmor Berantai Beraksi saat Orkes Dangdut, Motor Raib dalam Hitungan Detik

Terbongkar! Sindikat Penipuan Online Rp41,1 Miliar di Solo Raya Beroperasi Bak Perusahaan

Senin, 01 Juni 2026 | 21:32 WIB
header img
Terbongkar! Sindikat Penipuan Online Rp41,1 Miliar di Solo Raya Beroperasi Bak Perusahaan. Foto: iNewsJoglosemar.id/Taufik Budi

SEMARANG, iNewsJoglosemar.id – Direktorat Reserse Siber Polda Jawa Tengah menemukan fakta menarik dalam pengungkapan sindikat penipuan online internasional bermodus pig butchering di Solo Raya. Jaringan yang meraup keuntungan sekitar Rp41,1 miliar itu ternyata menjalankan operasinya layaknya sebuah perusahaan profesional dengan struktur organisasi yang rapi dan sistem kerja tertutup.

Setiap anggota memiliki tugas yang berbeda-beda. Mulai dari pencari korban, perayu korban, pengendali operasi, hingga model yang bertugas tampil saat korban meminta panggilan video.

Direktur Reserse Siber Polda Jateng Kombes Pol Himawan Sutanto Saragih mengatakan jaringan tersebut sengaja dibentuk dengan sistem berlapis agar tidak mudah terdeteksi aparat maupun mengalami kebocoran informasi dari dalam.

"Antara marketing dengan sesama marketing ini tidak saling kenal. Mereka hanya diberikan inisial," ujar Himawan saat konferensi pers di Mapolda Jateng, Senin (1/6/2026).

Menurutnya, meskipun bekerja dalam satu jaringan dan bahkan berada dalam satu lokasi operasional, para anggota hanya mengetahui tugas masing-masing.

Mereka tidak mengenal identitas lengkap anggota lain dan hanya berkomunikasi berdasarkan kebutuhan pekerjaan.

Sistem tersebut diterapkan untuk meminimalkan risiko apabila salah satu anggota tertangkap atau membocorkan informasi kepada pihak luar.

"Dia tidak tahu nama satu sama lain. Hanya diberikan inisial," jelas Himawan.

Dalam struktur organisasi yang ditemukan penyidik, terdapat beberapa tingkatan jabatan.

Lapisan paling bawah adalah asisten marketing yang bertugas mencari calon korban melalui aplikasi kencan daring dan media sosial.

Mereka melakukan pencarian target melalui Tinder, Puf, Boo, hingga Facebook.

Ketika menemukan calon korban yang merespons, kontak tersebut kemudian diserahkan kepada marketing.

Marketing bertugas melanjutkan komunikasi dan membangun hubungan emosional dengan korban.

Dalam menjalankan tugasnya, marketing menggunakan identitas palsu dan berpura-pura menjadi perempuan untuk menarik perhatian korban.

"Marketing itu tugasnya berpura-pura menjadi wanita," ungkap Himawan.

Setelah hubungan emosional terbentuk, korban diarahkan untuk berinvestasi pada platform kripto yang telah disiapkan jaringan.

Di atas marketing terdapat leader yang mengendalikan seluruh aktivitas anggota dalam satu kelompok.

Penyidik menemukan ada empat leader yang memimpin tim berbeda.

Masing-masing leader memiliki anggota sendiri dan tidak saling mengetahui target maupun aktivitas tim lainnya.

"Leader satu dengan leader lain tidak saling kenal meskipun berada dalam satu area kerja," kata Himawan.

Tugas leader tidak hanya mengawasi anggota, tetapi juga menyediakan perangkat kerja, memberikan arahan operasional, serta membantu mengendalikan sistem trading palsu yang digunakan untuk menipu korban.

Ketika korban sudah menyetorkan dana, leader memiliki peran penting untuk memastikan dana tersebut tidak bisa ditarik kembali.

Selain leader dan marketing, terdapat satu posisi lain yang cukup unik dalam jaringan tersebut, yakni model.

Model digunakan sebagai wajah asli ketika korban mulai meragukan identitas orang yang selama ini berkomunikasi dengannya.

Saat korban meminta panggilan video, sosok yang tampil bukan marketing melainkan model yang telah disiapkan khusus.

Model tersebut juga bekerja berdasarkan arahan dan skrip yang telah dibuat sebelumnya.

Dalam penggerebekan, polisi menemukan berbagai fasilitas yang digunakan untuk menunjang aktivitas model, termasuk meja rias dan ruang khusus.

Sementara itu, pada level tertinggi terdapat penyedia sarana dan prasarana yang bertanggung jawab menyediakan kantor, rumah kos, komputer, telepon seluler, hingga kebutuhan operasional lainnya.

Menurut Himawan, seluruh sistem tersebut sengaja dibangun menyerupai perusahaan modern agar aktivitas penipuan berjalan efektif dan menghasilkan keuntungan maksimal.

Fakta lain yang ditemukan penyidik adalah penggunaan perangkat komunikasi yang sangat terorganisir.

Setiap korban hanya dilayani menggunakan satu telepon seluler.

Apabila komunikasi dengan korban berakhir, perangkat tersebut tidak digunakan lagi untuk korban lain.

"Jadi satu korban itu satu handphone," ujar Himawan.

Polisi menemukan sebanyak 140 telepon seluler yang digunakan jaringan tersebut untuk menjalankan operasinya.

Selain itu, disita pula 123 unit komputer, dua laptop, 78 monitor, 54 keyboard, empat televisi serta berbagai dokumen panduan kerja.

Salah satu barang bukti yang menarik perhatian penyidik adalah buku panduan marketing yang berisi skrip dan tata cara berkomunikasi dengan korban.

Buku tersebut menjadi pedoman bagi para pelaku dalam membangun hubungan emosional hingga mengarahkan korban melakukan investasi.

Dari hasil penyidikan diketahui jaringan ini telah beroperasi sejak Juli 2025.

Selama hampir satu tahun, mereka berpindah-pindah lokasi untuk menghindari deteksi aparat penegak hukum.

"Kantor yang kami temukan sekarang adalah kantor keempat yang mereka gunakan," kata Himawan.

Polda Jateng menilai sistem kerja yang sangat tertutup dan profesional tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat jaringan mampu bertahan cukup lama serta memperoleh keuntungan hingga Rp41,1 miliar.

Saat ini penyidik masih terus mengembangkan kasus untuk mengungkap pengendali utama yang berada di balik operasi sindikat internasional tersebut.

Polisi juga menelusuri kemungkinan adanya jaringan serupa yang menggunakan pola dan struktur organisasi yang sama di wilayah lain.

 

 

 

Editor : Enih Nurhaeni

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut